9/28/2026

MENEMUKAN DIRI DI ANTARA DUNIA DAN TUHAN

“Ketika Mata Diajari Melihat”

Barangkali ada suatu masa dalam kehidupan ketika seseorang tiba-tiba berhenti sejenak dari kesibukan yang selama ini dijalaninya, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: sebenarnya siapa saya? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin sulit dijawab. Selama ini kita begitu mudah menjelaskan diri dengan nama, pekerjaan, jabatan, pendidikan, keluarga, organisasi, pencapaian, bahkan dengan pandangan orang lain terhadap kita. Kita berkata, “Saya kepala madrasah.” “Saya guru.” “Saya orang pesantren.” “Saya pengusaha.” “Saya orang berilmu.” Tetapi semua itu sebenarnya hanya menjelaskan apa yang sedang kita jalankan, bukan siapa kita ketika seluruh peran itu dilepaskan.

Jabatan dapat berakhir. Nama dapat dilupakan. Kekayaan dapat berpindah tangan. Pengaruh dapat menghilang. Tubuh akan menua. Orang-orang yang hari ini mengenal kita suatu hari mungkin tidak lagi mengingat nama kita. Bahkan apa yang hari ini kita sebut sebagai “milik saya” pada akhirnya akan kembali kepada kehidupan tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita. Lalu, ketika satu demi satu identitas itu dicabut, apa yang tersisa? Pertanyaan inilah yang perlahan membawa saya masuk ke dalam perjalanan yang berbeda: bukan lagi sekadar perjalanan untuk mengetahui dunia, melainkan perjalanan untuk mengenali diri sendiri.

Mungkin sejak awal saya memang bukan manusia yang mudah puas dengan jawaban pertama. Ada sesuatu di dalam diri yang selalu ingin melihat lebih jauh dari apa yang tampak. Ketika berhadapan dengan sebuah peristiwa, saya ingin mengetahui sebabnya. Ketika menemukan sebuah pemikiran, saya ingin tahu dari mana ia berasal. Ketika membaca kitab, saya ingin mengetahui konteksnya. Ketika mendengar pendapat, saya ingin mengetahui dasar pemikirannya. Ketika melihat sebuah kebijakan, saya ingin bertanya siapa yang membuatnya, untuk apa, dan apa akibatnya bagi manusia. Saya tidak selalu menemukan jawaban, tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat hidup terasa bergerak.

Saya mulai menyadari bahwa manusia tidak hanya membutuhkan jawaban. Manusia membutuhkan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang benar. Sebab jawaban yang benar sekalipun dapat kehilangan makna jika diberikan kepada pertanyaan yang keliru. Karena itu saya sering merasa bahwa belajar bukan sekadar menambah pengetahuan. Belajar adalah memperluas cara melihat. Kita membaca buku agar pandangan tidak sempit, belajar dari guru agar pengalaman tidak dimulai dari nol, membaca sejarah agar tidak mengulangi kebodohan yang sama, dan mendalami agama agar kehidupan tidak kehilangan arah. Tetapi semakin banyak membaca, semakin saya memahami bahwa pengetahuan tentang dunia tidak otomatis membuat seseorang mengenal dirinya.

Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kesabaran tetapi belum tentu sabar. Ia dapat berbicara panjang tentang keikhlasan tetapi masih kecewa ketika tidak dihargai. Ia dapat menjelaskan tentang tawakal tetapi gelisah ketika rencana tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan. Ia dapat berbicara tentang kematian tetapi masih sangat takut kehilangan sesuatu yang dicintainya. Ia dapat berbicara tentang Tuhan tetapi tetap membutuhkan pengakuan manusia. Di situlah saya mulai memahami bahwa ilmu yang paling sulit bukanlah ilmu tentang dunia, melainkan ilmu tentang diri sendiri.

Mungkin karena itu saya selalu merasa ada dua dunia yang berjalan bersamaan dalam diri: dunia pikiran dan dunia rasa. Akal bertanya tentang kebenaran, sedangkan rasa bertanya tentang makna. Akal membedah, rasa menghayati. Akal membutuhkan alasan, rasa membutuhkan pengalaman. Saya tidak ingin memilih salah satunya. Saya ingin keduanya berjalan bersama, karena hidup yang hanya mengandalkan akal dapat menjadi kering, sementara hidup yang hanya mengikuti rasa dapat kehilangan arah. Akal membutuhkan kejernihan, rasa membutuhkan kedalaman, dan keduanya membutuhkan tindakan agar tidak berhenti sebagai wacana.

Karena itu mungkin tampak aneh jika dalam satu waktu saya dapat berbicara tentang ruh, nafs, kematian, tasawuf, dan hakikat manusia, lalu tidak lama kemudian berpikir tentang pendidikan, fasilitas madrasah, olahraga siswa, kewirausahaan, pertanian, peternakan, lingkungan, atau bagaimana membuat sebuah program benar-benar berjalan. Tetapi bagi saya, semua itu sebenarnya tidak terpisah. Saya sedang mencari titik temu antara dunia batin dan dunia nyata. Saya ingin spiritualitas yang tidak berhenti di atas sajadah, dan saya ingin pekerjaan duniawi yang tidak kehilangan ruh. Sebab apa gunanya berbicara tentang kebaikan jika tidak pernah menjadi kebaikan yang dirasakan orang lain?

Mungkin di situlah saya mulai memahami pendidikan dengan cara yang berbeda. Madrasah bukan sekadar bangunan. Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi. Siswa bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Program bukan sekadar kegiatan yang harus dilaksanakan. Di balik semuanya ada manusia. Ada anak-anak yang sedang mencari arah. Ada guru yang juga memiliki persoalan hidup. Ada orang tua yang menyimpan harapan. Ada masyarakat yang mungkin belum sepenuhnya percaya. Ada lembaga yang sedang berusaha bertahan sekaligus bertumbuh. Dan di tengah semua itu saya ditempatkan dalam sebuah posisi yang bernama kepemimpinan.

Menjadi kepala madrasah pada akhirnya mengajarkan saya bahwa memimpin manusia jauh lebih rumit daripada membuat program. Program dapat ditulis. Jadwal dapat disusun. Struktur organisasi dapat dibuat. Tetapi manusia tidak pernah sesederhana tabel dan dokumen. Manusia membawa pengalaman, luka, harapan, ketakutan, ambisi, dan keterbatasannya masing-masing. Karena itu kepemimpinan perlahan saya pahami bukan sebagai hak untuk mengatur, melainkan sebagai amanah untuk menjaga.

Ada perbedaan yang sangat besar antara kekuasaan dan amanah. Ketika jabatan dipandang sebagai kekuasaan, orang lain harus mengikuti kita. Tetapi ketika jabatan dipandang sebagai amanah, pertanyaan yang muncul justru berbeda: apa yang harus saya jaga, siapa yang harus saya bantu tumbuh, apa yang harus saya perbaiki, dan apa yang akan terjadi setelah saya tidak lagi berada di sini?

Pertanyaan terakhir itu semakin lama terasa semakin penting. Sebab mungkin ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang bergantung kepadanya, melainkan seberapa banyak manusia yang mampu berdiri karena pernah dipimpinnya. Pemimpin yang baik bukan yang membuat dirinya tidak tergantikan, tetapi yang menyiapkan orang lain agar mampu melanjutkan pekerjaan ketika dirinya tidak lagi ada.

Namun kekuasaan memiliki cara yang sangat halus untuk memasuki hati. Ia tidak selalu datang dalam bentuk ambisi besar. Kadang ia datang dalam bentuk keinginan sederhana untuk didengar, keinginan untuk dianggap benar, keinginan agar keputusan kita dihormati, keinginan agar orang memahami visi kita, bahkan keinginan agar orang mengakui bahwa apa yang kita lakukan adalah bentuk pengabdian. Semua itu manusiawi. Tetapi justru karena manusiawi, ia harus diawasi.

Sebab seseorang dapat memulai kepemimpinan dengan niat mengabdi, lalu perlahan membutuhkan kekuasaan untuk merasa berarti. Ia dapat memulai dengan keinginan memperbaiki keadaan, kemudian tanpa sadar menjadi orang yang merasa keadaan hanya akan baik jika mengikuti caranya. Pada titik itulah jabatan mulai berubah dari amanah menjadi identitas.

Maka saya perlu terus mengingatkan diri sendiri: saya bukan jabatan saya. Saya hanya sedang menjalankan amanah melalui jabatan itu. Jika suatu hari jabatan itu selesai, saya tetap manusia. Jika suatu hari tidak ada lagi yang memanggil saya dengan gelar, saya tetap manusia. Jika suatu hari orang tidak lagi membutuhkan keputusan saya, saya tetap manusia. Dan jika suatu hari semua itu berakhir, saya tetap seorang hamba yang akan kembali kepada Tuhan.

Kalimat sederhana itu ternyata memiliki kedalaman yang panjang. Sebab ketika jabatan menjadi identitas, kritik terasa seperti penghinaan. Ketika jabatan menjadi amanah, kritik dapat menjadi informasi. Ketika jabatan menjadi identitas, kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan diri. Ketika jabatan menjadi amanah, pergantian hanyalah pergantian tugas.

Saya juga semakin memahami bahwa ilmu memiliki hubungan yang rumit dengan ego. Saya mencintai buku, menghormati kitab, menghargai guru, dan percaya bahwa manusia harus belajar. Tetapi semakin banyak membaca, semakin saya merasa bahwa buku tidak boleh menjadi penjara bagi pikiran. Buku adalah jendela. Kitab adalah peta. Guru menunjukkan jalan. Tetapi murid tetap harus berjalan.

Membaca tentang laut tidak sama dengan pernah berlayar. Membaca tentang kesabaran tidak sama dengan diuji. Membaca tentang kehilangan tidak sama dengan kehilangan. Membaca tentang kematian tidak sama dengan berdamai dengan kematian. Dan membaca tentang Tuhan tidak sama dengan mengenal Tuhan.

Karena itu saya mulai melihat ilmu bukan sebagai kumpulan jawaban, melainkan sebagai perjalanan yang terus menguji diri. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling tahu. Sebab semakin banyak yang diketahui, semakin jelas betapa luasnya sesuatu yang belum diketahui.

Saya menyukai kebebasan berpikir. Saya tidak mudah puas dengan kalimat, “Memang dari dulu begitu.” Saya ingin bertanya: mengapa? Apa dasarnya? Siapa yang mengatakan? Dalam konteks apa? Apakah masih relevan? Apa akibatnya? Saya merasa manusia harus mempunyai keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah mapan.

Tetapi saya juga belajar bahwa kemampuan mengkritik dapat menjadi jebakan yang sangat halus. Ada orang yang merasa dirinya lebih bebas hanya karena tidak mau mengikuti pendapat orang lain. Ada yang merasa lebih cerdas karena mampu membantah. Ada yang menjadikan kritik sebagai identitas. Padahal kebebasan berpikir bukan sekadar kemampuan mengatakan tidak. Kebebasan berpikir adalah kemampuan menerima kebenaran meskipun kebenaran itu memaksa kita meninggalkan pendapat sendiri.

Maka ada satu pertanyaan yang harus terus saya bawa: apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari pembenaran?

Keduanya terdengar hampir sama, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Orang yang mencari pembenaran akan mempertahankan pendapatnya. Orang yang mencari kebenaran bersedia kehilangan pendapatnya.

Di titik ini saya mulai melihat ego dengan cara yang berbeda. Ego tidak selalu berkata, “Saya hebat.” Kadang ia datang dengan suara yang jauh lebih halus: “Saya hanya ingin membantu.” “Saya hanya ingin meluruskan.” “Saya hanya ingin kebenaran.” Kalimat-kalimat itu bisa benar, tetapi bisa pula menjadi pakaian yang sangat halus bagi ego.

Karena itu saya tidak ingin terlalu cepat percaya kepada gambaran baik tentang diri sendiri. Saya tidak ingin merasa telah ikhlas hanya karena mampu berbicara tentang keikhlasan. Saya tidak ingin merasa telah berserah hanya karena mampu menjelaskan tawakal. Saya tidak ingin merasa sudah bebas dari ego hanya karena sudah mengenal istilah ego.

Sebab diri tidak diuji ketika semuanya berjalan sesuai keinginan. Diri diuji ketika rencana gagal. Ketika kritik datang. Ketika orang tidak mengikuti. Ketika seseorang yang kita bantu tidak berterima kasih. Ketika orang lain lebih berhasil. Ketika kita tidak dianggap. Ketika sesuatu yang kita cintai tiba-tiba harus dilepaskan.

Di situlah teori bertemu kenyataan.

Mungkin karakter seseorang tidak paling jelas ketika ia dipuji, tetapi ketika ia dikritik. Tidak paling terlihat ketika ia berhasil, tetapi ketika ia gagal. Tidak paling terbaca ketika ia bersama banyak orang, tetapi ketika ia sendirian.

Karena itu saya ingin belajar melihat kritik bukan sebagai ancaman pertama, melainkan sebagai informasi pertama. Tidak semua kritik benar. Tetapi hampir semua kritik dapat diperiksa. Jika benar, perbaiki. Jika salah, lepaskan. Jika sebagian benar, ambil bagian yang berguna. Dengan begitu saya tidak perlu kehilangan martabat hanya karena menerima koreksi.

Saya juga mulai menyadari bahwa saya memiliki terlalu banyak pintu yang ingin dimasuki. Pendidikan, tasawuf, Al-Qur'an, sejarah, budaya, kewirausahaan, pertanian, peternakan, teknologi, media, lingkungan, filsafat, dan banyak hal lain terasa menarik. Semuanya seperti memanggil untuk dipelajari.

Tetapi hidup mempunyai batas.

Waktu terbatas. Tenaga terbatas. Perhatian terbatas. Uang terbatas. Bahkan umur pun terbatas.

Tidak semua ide harus menjadi proyek. Tidak semua gagasan harus diwujudkan. Sebagian cukup menjadi pengetahuan. Sebagian cukup menjadi tulisan. Sebagian cukup menjadi renungan. Dan hanya beberapa yang benar-benar harus diperjuangkan.

Saya mulai belajar bahwa kedewasaan bukan hanya kemampuan melihat banyak kemungkinan. Kedewasaan adalah keberanian memilih.

Memilih berarti berani mengatakan tidak kepada sebagian hal agar kita dapat mengatakan ya dengan sungguh-sungguh kepada sesuatu yang benar-benar penting.

Mungkin ini salah satu pelajaran terbesar dalam fase hidup saya sekarang: fokus bukan membatasi kehidupan; fokus menyelamatkan kehidupan dari pemborosan.

Kemudian ada satu guru yang tidak pernah berbohong kepada siapa pun: kematian.

Kematian tidak peduli jabatan. Tidak peduli popularitas. Tidak peduli banyaknya pengikut. Tidak peduli berapa banyak buku yang pernah kita baca. Tidak peduli seberapa penting kita merasa diri kita bagi dunia.

Pada akhirnya semua manusia akan berdiri di depan pintu yang sama.

Mungkin karena itu kematian justru membuat kehidupan menjadi lebih jernih.

Jika hidup saya tinggal satu tahun, apa yang benar-benar penting?

Jika tinggal satu bulan?

Jika tinggal satu minggu?

Jika tinggal satu hari?

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti pisau yang memotong banyak kebisingan. Tiba-tiba sebagian perdebatan menjadi tidak penting. Sebagian penghinaan tidak layak dibalas. Sebagian ambisi tidak perlu dikejar. Sebagian luka tidak perlu dibawa terlalu lama. Sebagian keinginan untuk membuktikan diri ternyata hanya menghabiskan waktu.

Kematian mengajarkan bahwa kita semua pada akhirnya akan meninggalkan panggung.

Yang membedakan bukan apakah kita pergi, tetapi bagaimana kita menjalani waktu sebelum pergi.

Dan semakin saya memikirkan kematian, semakin saya memahami bahwa mungkin persoalan terbesar manusia bukanlah kematian, melainkan keterikatan.

Kita takut mati karena terlalu banyak merasa memiliki.

Kita takut kehilangan karena terlalu banyak mengatakan, “Ini milikku.”

Kita takut dilupakan karena terlalu banyak membangun identitas di atas pandangan manusia.

Maka mungkin sebagian dari perjalanan spiritual adalah belajar melepaskan kepemilikan itu sedikit demi sedikit.

Bukan berarti berhenti bekerja.

Bukan berarti tidak boleh memiliki.

Bukan berarti menjadi manusia yang tidak peduli.

Justru sebaliknya.

Kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tetap menjaga apa yang dipercayakan.

Tetap membangun.

Tetap mencintai.

Tetap berusaha.

Tetapi dengan kesadaran bahwa semuanya hanya titipan.

Ada masa ketika dunia terasa begitu penting. Kita ingin mengejar banyak hal, memperbaiki banyak hal, membuktikan banyak hal. Tetapi ada pula fase ketika dunia mulai terasa biasa saja. Bukan karena kita membencinya. Bukan karena kita menyerah. Bukan karena kita tidak lagi peduli.

Hanya saja ada sesuatu di dalam diri yang mulai memahami bahwa dunia akan tetap berjalan tanpa kita.

Orang akan tetap bekerja.

Matahari tetap terbit.

Hujan tetap turun.

Orang tetap bertengkar dan berdamai.

Sekolah tetap berjalan.

Anak-anak tetap tumbuh.

Generasi berganti.

Nama-nama berubah.

Dan dunia tetap melanjutkan perjalanannya.

Kesadaran itu seharusnya tidak membuat kita apatis. Justru membuat kita lebih rendah hati.

Kita hanya bagian kecil dari arus kehidupan.

Kita melakukan bagian kita sebaik mungkin.

Setelah itu, kita belajar melepaskan hasilnya.

Di sinilah kata ridha mulai menemukan tempatnya.

Ridha bukan berarti berhenti berusaha.

Ridha bukan menyerah sebelum berjuang.

Ridha adalah bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menganggap hasil sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

Kita merencanakan.

Kita berikhtiar.

Kita berdoa.

Tetapi hasil akhirnya bukan milik kita.

Dan mungkin di situlah tawakal menjadi nyata.

Tawakal bukan berhenti bekerja.

Tawakal adalah bekerja tanpa menjadikan hasil sebagai Tuhan kecil di dalam diri.

Pada akhirnya seluruh perjalanan itu membawa saya kembali kepada satu nama yang sebenarnya sejak awal tidak pernah pergi:

Allah.

Semakin jauh manusia berjalan, semakin ia menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dijadikan sandaran ternyata rapuh.

Manusia bisa berubah.

Jabatan bisa hilang.

Harta bisa berkurang.

Tubuh bisa sakit.

Rencana bisa gagal.

Orang yang kita cintai bisa pergi.

Pujian bisa berubah menjadi kritik.

Hari ini kita dianggap penting, besok mungkin tidak lagi.

Jika seluruh ketenangan kita bergantung kepada hal-hal itu, maka hidup akan selalu gelisah.

Maka perlahan saya belajar mengembalikan pusat sandaran kepada Allah.

Bukan berarti tidak membutuhkan manusia.

Kita tetap membutuhkan manusia.

Kita tetap membutuhkan keluarga, guru, sahabat, masyarakat, dan kerja sama.

Tetapi manusia bukan tempat bergantung secara mutlak.

Manusia adalah bagian dari perjalanan.

Allah adalah sandaran.

Dan mungkin itulah inti dari seluruh pencarian spiritual: bukan menjadi manusia yang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan menjadi manusia yang tahu kepada siapa segala sesuatu akhirnya dikembalikan.

Saya pernah membayangkan diri mendekati sesuatu yang saya sebut sebagai “resi”—bukan sebagai gelar, bukan sebagai status, tetapi sebagai gambaran tentang manusia yang mulai melihat dunia dengan jarak tertentu. Dunia tetap ada, tetapi tidak lagi terlalu mudah menguasai batin.

Namun saya juga sadar bahwa merasa telah sampai adalah salah satu jebakan paling halus dalam perjalanan spiritual.

Ketika seseorang berkata, “Saya sudah ikhlas,” mungkin justru saat itulah keikhlasannya sedang diuji.

Ketika seseorang merasa, “Saya sudah tidak membutuhkan pengakuan,” lihatlah bagaimana hatinya bereaksi ketika tidak dihargai.

Ketika seseorang berkata, “Saya sudah berserah,” lihatlah apa yang terjadi ketika rencananya gagal.

Maka saya tidak ingin mengklaim telah sampai.

Saya hanya ingin mengatakan:

saya sedang berjalan.

Dan selama masih berjalan, saya masih mungkin salah.

Masih mungkin jatuh.

Masih mungkin sombong.

Masih mungkin marah.

Masih mungkin takut.

Masih mungkin kehilangan arah.

Tetapi selama masih mau kembali, perjalanan belum berakhir.

Mungkin jati diri bukan sesuatu yang harus saya ciptakan. Mungkin ia sesuatu yang harus saya singkap.

Seperti cermin yang tertutup debu. Kita tidak perlu membuat cermin menjadi cermin. Kita hanya perlu membersihkan debunya.

Begitu pula manusia.

Barangkali kita tidak perlu menciptakan diri yang sempurna. Kita hanya perlu membersihkan sesuatu yang menutup kejernihan itu: kesombongan, ketakutan, kepura-puraan, kebutuhan akan pengakuan, kemarahan, keterikatan, ambisi yang berlebihan, dan ketergantungan kepada sesuatu selain Allah.

Semakin banyak debu dibersihkan, semakin jelas pantulannya.

Mungkin perjalanan spiritual bukan terutama tentang menambah sesuatu.

Tetapi tentang mengurangi.

Mengurangi ego.

Mengurangi kepalsuan.

Mengurangi ketergantungan.

Mengurangi kebutuhan untuk terlihat.

Mengurangi kebutuhan untuk menang.

Mengurangi kebutuhan untuk selalu benar.

Sampai akhirnya manusia menjadi lebih sederhana.

Saya tidak ingin menjadi semakin rumit.

Saya ingin berpikir dengan jernih.

Bekerja dengan sungguh-sungguh.

Berbicara seperlunya.

Mendengarkan lebih banyak.

Tidak mudah tersinggung.

Tidak terlalu haus pengakuan.

Tidak takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milik saya.

Tidak terlalu sibuk menjelaskan diri.

Tidak terlalu sibuk membuktikan diri.

Tidak merasa harus memenangkan semua perdebatan.

Tetap belajar.

Tetap memimpin.

Tetap berkarya.

Tetap membangun.

Tetapi dengan hati yang semakin ringan.

Sebab mungkin kedewasaan bukan ketika manusia mempunyai semakin banyak jawaban.

Kedewasaan adalah ketika manusia mampu hidup bersama beberapa pertanyaan tanpa kehilangan ketenangan.

Pada akhirnya saya mulai melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang harus saya miliki, tetapi sebagai sesuatu yang dipercayakan.

Dulu mungkin saya berkata:

"Ini milik saya."

Sekarang saya ingin belajar berkata:

"Ini dititipkan kepada saya."

Dulu:

"Ini jabatan saya."

Sekarang:

"Ini amanah yang sedang saya jalankan."

Dulu:

"Ini keberhasilan saya."

Sekarang:

"Saya hanya diberi kesempatan untuk ikut mengerjakannya."

Perubahan bahasa itu ternyata mengubah cara memandang hidup.

Jika semuanya milik kita, kita akan takut kehilangan.

Jika semuanya amanah, kita belajar menjaga.

Dan ketika amanah itu dikembalikan, kita belajar merelakan.

Pada akhirnya saya tidak ingin meninggalkan terlalu banyak nama.

Nama akan dilupakan.

Tidak ingin meninggalkan terlalu banyak jabatan.

Jabatan akan berganti.

Tidak ingin meninggalkan terlalu banyak benda.

Benda akan rusak.

Saya ingin meninggalkan manusia.

Seorang siswa yang pernah mendapatkan kesempatan lalu memberikan kesempatan kepada orang lain.

Seorang guru yang pernah merasa dihargai lalu belajar menghargai muridnya.

Seorang alumni yang pernah dibimbing lalu mampu membimbing orang lain.

Seseorang yang pernah mendengar sebuah kalimat lalu mengubah arah hidupnya.

Mungkin itulah warisan yang sesungguhnya.

Bukan berapa banyak yang saya miliki, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena saya pernah hadir.

Namun bahkan pertanyaan itu pun pada akhirnya harus dilepaskan. Sebab kita tidak selalu akan mengetahui hasil dari kebaikan yang kita lakukan.

Benih tidak pernah melihat seluruh pohon.

Guru tidak selalu melihat seluruh perjalanan murid.

Orang tua tidak selalu melihat seluruh masa depan anak.

Kita hanya menanam.

Waktu yang bekerja.

Allah yang menentukan.

Dan mungkin inilah bentuk pengabdian yang paling sederhana: melakukan bagian kita tanpa menuntut dunia menyaksikannya.

Sebab jika setiap kebaikan harus disaksikan agar kita mau melakukannya, mungkin yang kita cari bukan lagi kebaikan, tetapi pengakuan.

Maka saya ingin belajar melakukan sesuatu bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Karena mungkin di situlah karakter yang sebenarnya mulai terbentuk.

Bukan pada apa yang kita katakan tentang diri kita.

Bukan pada apa yang kita tulis tentang diri kita.

Bukan pada bagaimana orang memandang kita.

Tetapi pada apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Dan pada akhirnya saya kembali kepada pertanyaan yang sejak awal mengiringi perjalanan ini:

Siapakah saya?

Saya bisa menjawabnya dengan banyak cara.

Saya bisa menyebut nama.

Saya bisa menyebut jabatan.

Saya bisa menyebut pendidikan.

Saya bisa menyebut pekerjaan.

Saya bisa menyebut pengalaman.

Tetapi semua itu belum menyentuh inti.

Maka mungkin suatu hari, ketika semua gelar itu dilepas, saya hanya ingin menjawab:

Saya manusia yang masih belajar.

Belajar mengenal diri.

Belajar memahami manusia.

Belajar mengendalikan diri.

Belajar menerima kehilangan.

Belajar menghadapi kematian.

Belajar menggunakan ilmu tanpa menjadi sombong.

Belajar memimpin tanpa menjadi penguasa.

Belajar mencintai tanpa merasa memiliki.

Belajar berbuat tanpa menuntut balasan.

Belajar berbicara kepada manusia.

Belajar diam di hadapan Tuhan.

Dan yang paling sulit:

belajar melepaskan diri dari dirinya sendiri.

Sebab mungkin selama ini yang paling sering menghalangi saya bukan dunia.

Bukan orang lain.

Bukan keadaan.

Tetapi “aku” yang terlalu ingin menjadi sesuatu.

Aku yang ingin dianggap.

Aku yang ingin dipahami.

Aku yang ingin dihargai.

Aku yang ingin benar.

Aku yang ingin menang.

Aku yang ingin dikenang.

Aku yang ingin menjadi seseorang.

Barangkali perjalanan pulang justru dimulai ketika aku mulai bertanya:

Apakah semua itu benar-benar aku?

Jika jabatan bukan aku, siapa aku?

Jika pikiran bukan aku, siapa aku?

Jika emosi bukan aku, siapa aku?

Jika pujian bukan aku, siapa aku?

Jika celaan bukan aku, siapa aku?

Jika keberhasilan bukan aku, siapa aku?

Jika kegagalan bukan aku, siapa aku?

Jika tubuh suatu hari akan kembali menjadi tanah, siapa aku?

Pertanyaan itu tidak perlu buru-buru dijawab.

Mungkin memang tidak boleh dijawab terlalu cepat.

Sebab ada pertanyaan yang bukan untuk dijawab dengan kata-kata, melainkan untuk dijalani.

Maka saya ingin berhenti sejenak.

Tidak mengejar jawaban.

Tidak mengejar pengalaman spiritual.

Tidak mengejar pengakuan.

Tidak mengejar kesempurnaan.

Hanya diam.

Menyadari napas.

Menyadari kehidupan.

Menyadari bahwa hari ini saya masih diberi kesempatan.

Masih diberi waktu.

Masih diberi akal.

Masih diberi rasa.

Masih diberi amanah.

Masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Masih diberi kesempatan untuk meminta maaf.

Masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.

Dan suatu hari, semua kesempatan itu akan selesai.

Maka barangkali kehidupan bukan tentang seberapa besar kita menjadi.

Tetapi seberapa jernih kita menjalani.

Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.

Tetapi seberapa baik kita menjaga apa yang dititipkan.

Bukan tentang seberapa banyak orang mengenal kita.

Tetapi apakah kehadiran kita pernah memberi manfaat.

Bukan tentang seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan.

Tetapi apakah hati kita semakin mampu bersandar kepada-Nya.

Dan bukan tentang seberapa tinggi kita merasa telah mencapai perjalanan spiritual.

Tetapi apakah kita masih mampu menjadi sederhana di hadapan-Nya.

Mungkin pada akhirnya jati diri bukanlah sebuah nama.

Bukan sebuah gelar.

Bukan sebuah teori.

Bukan sebuah definisi.

Jati diri adalah kejernihan yang muncul ketika manusia perlahan-lahan melepaskan segala sesuatu yang selama ini menutupi dirinya.

Dan mungkin, semakin dekat seseorang kepada hakikat, semakin sederhana ia berbicara tentang dirinya.

Tidak perlu terlalu banyak menjelaskan.

Tidak perlu terlalu banyak membuktikan.

Tidak perlu terlalu banyak mengaku.

Cukup menjalani.

Cukup menjaga.

Cukup berbuat.

Cukup berserah.

Sebab pada akhirnya kita semua sedang menuju tempat yang sama.

Ada yang membawa banyak nama.

Ada yang membawa banyak cerita.

Ada yang membawa banyak pencapaian.

Ada yang membawa banyak penyesalan.

Tetapi pada pintu terakhir, semuanya akan menjadi sederhana.

Tidak ada lagi jabatan.

Tidak ada lagi panggung.

Tidak ada lagi tepuk tangan.

Tidak ada lagi pengikut.

Tidak ada lagi perdebatan.

Tidak ada lagi citra.

Hanya seorang manusia dan Tuhannya.

Dan mungkin pada saat itulah seluruh pertanyaan tentang jati diri menemukan tempatnya.

Bukan karena kita akhirnya mampu menjelaskan siapa diri kita, tetapi karena kita akhirnya memahami bahwa sejak awal kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.

Kita hanya dititipi.

Waktu dititipi.

Tubuh dititipi.

Akal dititipi.

Keluarga dititipi.

Ilmu dititipi.

Jabatan dititipi.

Kesempatan dititipi.

Bahkan kehidupan itu sendiri dititipi.

Maka jika suatu hari semuanya dikembalikan, semoga kita tidak terlalu sibuk bertanya:

"Mengapa Engkau mengambilnya?"

Tetapi mampu berkata:

"Ya Allah, semuanya memang milik-Mu."

Jika Engkau masih memberikannya, ajari saya menjaganya.

Jika Engkau mengambilnya, ajari saya merelakannya.

Jika Engkau memberi saya waktu, ajari saya menggunakannya.

Jika Engkau memberi saya ilmu, ajari saya agar ilmu itu tidak menjadi kesombongan.

Jika Engkau memberi saya jabatan, ajari saya agar tidak menjadi penguasa.

Jika Engkau memberi saya rezeki, ajari saya agar tidak diperbudak olehnya.

Jika Engkau memberi saya manusia untuk dipimpin, ajari saya agar mampu menjaga mereka.

Dan ketika waktunya tiba untuk pulang, jangan biarkan saya pulang membawa terlalu banyak kesombongan yang belum sempat saya lepaskan.

Biarkan saya pulang sebagai manusia yang sederhana.

Sebagai seorang hamba.

Sebagai seseorang yang mungkin tidak sempurna, tetapi telah berusaha.

Yang mungkin masih banyak salah, tetapi terus kembali.

Yang mungkin belum memahami seluruh rahasia kehidupan, tetapi telah belajar mempercayakan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya kepada Tuhan.

Sebab pada akhirnya, mungkin perjalanan hidup bukan perjalanan untuk menjadi seseorang.

Ia adalah perjalanan untuk kembali.

Kembali dari kesombongan menuju kerendahan hati.

Kembali dari kebisingan menuju keheningan.

Kembali dari kebutuhan untuk diakui menuju ketulusan.

Kembali dari ketergantungan kepada manusia menuju tawakal.

Kembali dari keinginan menguasai dunia menuju kemampuan menguasai diri.

Kembali dari “aku” menuju “amanah”.

Dan pada ujung semuanya, kembali kepada Dia yang sejak awal tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.

Allah.

Maka jika suatu hari dunia bertanya,

"Siapakah kamu?"

Mungkin saya tidak lagi membutuhkan jawaban yang panjang.

Saya hanya ingin berkata:

Aku seorang manusia yang sedang belajar pulang.

Dan jika suatu hari Allah bertanya:

"Apa yang telah kau lakukan dengan segala yang telah Aku titipkan?"

Semoga saya tidak perlu membawa banyak kata.

Semoga hidup saya sendiri yang menjawab.

Semoga setiap siswa yang pernah saya dampingi menjadi jawaban.

Setiap guru yang pernah saya kuatkan menjadi jawaban.

Setiap manusia yang pernah saya bantu menjadi jawaban.

Setiap kesalahan yang pernah saya akui menjadi jawaban.

Setiap ego yang pernah saya lepaskan menjadi jawaban.

Setiap amanah yang pernah saya jaga menjadi jawaban.

Dan ketika tidak ada lagi yang dapat dibawa selain amal dan hati, semoga hati itu cukup jernih untuk mengatakan:

"Ya Allah, aku tidak datang membawa kebesaran.

Aku hanya datang membawa apa yang tersisa dari diriku setelah berusaha melepaskan segala sesuatu yang bukan milikku."

"Aku datang sebagai seorang hamba."

Lalu diam.

Tidak perlu menjelaskan lagi.

Tidak perlu membuktikan lagi.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa lagi.

Hanya pulang.

9/10/2026

MEMBACA KITAB DALAM DIRI

Aku membaca tanpa mata,

aku mendengar tanpa telinga,

aku berbicara tanpa suara.

Tulisan tanpa tinta,
bahasa tanpa kata,
makna tanpa bunyi.

Wahai hati, jernihlah.
Wahai akal, teranglah.
Wahai rasa, sadarlah.

Aku tidak mencari jauh,
aku kembali ke dalam.

Aku membaca tanda,
aku memahami makna,
aku mengenali diriku.

Yang tersurat kubaca,
yang tersirat kurasa,
yang tersembunyi kuserahkan kepada-Nya.

Ya Allah,
jangan biarkan aku membaca dengan mata
namun buta dengan hati.

Bukakan pemahamanku,
jernihkan penglihatanku,
hidupkan kesadaranku.

Agar setiap langkah menjadi pelajaran,
setiap kejadian menjadi ayat,
setiap rasa menjadi pengingat,
dan setiap napas menjadi jalan
untuk semakin mengenal-Mu.

Aku membaca kitab di dalam diriku,
namun Engkaulah sumber segala makna.

Aku mencari-Mu dalam diriku,
namun Engkau tidak pernah berada di dalam batas diriku.

Allahumma nur qalbi,
wa aslih sirri,
wahdini ila shiraatikal mustaqim.

4/18/2026

Rumah yang Hilang di Dalam Diri: Ketika Manusia Tak Lagi Tahu Menempatkan Hidupnya

Sebuah rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah cermin keteraturan hidup. Setiap sudutnya menyimpan pesan diam tentang batas, fungsi, dan kesadaran. Halaman mengajarkan keterbukaan—siapa pun boleh datang, tapi tidak semua harus masuk. Ruang depan adalah wajah, tempat kita memperkenalkan diri dengan sewajarnya. Ruang tamu adalah ruang interaksi, tempat etika dan batas percakapan dijaga. Ruang keluarga adalah kehangatan yang jujur, tanpa sandiwara. Dan dapur adalah ruang paling sunyi sekaligus paling jujur—tempat proses kehidupan diolah dengan kerja, kesabaran, dan ketulusan tanpa perlu dipertontonkan. Rumah, dalam diamnya, mengajarkan manusia tentang tata letak kehidupan yang seharusnya.

Namun hari ini, manusia perlahan kehilangan “arsitektur batin” itu. Kita hidup dalam dunia yang meruntuhkan batas antar ruang. Halaman dijadikan panggung utama untuk memamerkan isi dapur. Apa yang seharusnya menjadi proses pribadi—luka, perjuangan, bahkan kegagalan—justru diumbar tanpa arah, sering kali demi validasi yang semu. Sebaliknya, ruang keluarga yang seharusnya hangat dan jujur justru menjadi dingin, penuh jarak, bahkan penuh kepalsuan. Kita lebih mudah jujur kepada orang jauh daripada kepada yang dekat. Kita lebih peduli citra di luar daripada keutuhan di dalam. Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, ini adalah krisis kesadaran.

Lebih jauh lagi, manusia modern sering membangun “rumah luar” dengan sangat megah, tetapi membiarkan “rumah dalam” runtuh tanpa disadari. Kita sibuk memperindah tampilan, tetapi lupa menata makna. Kita ingin terlihat baik, tapi tidak sungguh-sungguh ingin menjadi baik. Dalam kondisi seperti ini, hidup menjadi seperti rumah tanpa sekat: semua bercampur, semua berisik, tidak ada ruang teduh untuk kembali. Akibatnya, manusia kehilangan tempat pulang dalam dirinya sendiri. Ia asing di tengah keramaian, lelah di tengah pencapaian, dan kosong di tengah pengakuan.

Kritiknya sederhana namun tajam: manusia hari ini gagal memahami bahwa tidak semua hal harus dibuka, tidak semua harus dibagikan, dan tidak semua orang berhak masuk ke ruang terdalam kehidupannya. Ada nilai yang harus dijaga, ada proses yang harus disunyikan, ada luka yang harus disembuhkan tanpa sorotan. Ketika semua menjadi konsumsi publik, maka yang hilang adalah kesakralan hidup itu sendiri. Kita menjadi generasi yang telanjang secara emosional, tapi miskin kedalaman.

Maka, yang perlu dibangun bukan hanya rumah secara fisik, tetapi kesadaran untuk menata ulang ruang-ruang kehidupan. Belajar membedakan mana yang untuk dunia luar, mana yang untuk relasi, dan mana yang harus dijaga antara diri dan Tuhan. Belajar menahan diri untuk tidak selalu tampil, dan berani masuk ke “dapur kehidupan” untuk benar-benar mengolah diri. Karena sejatinya, ketenangan tidak lahir dari seberapa luas halaman yang kita miliki, tetapi dari seberapa tertata ruang dalam diri kita.

Pada akhirnya, manusia yang utuh bukanlah yang paling terlihat, tetapi yang paling tahu menempatkan dirinya. Ia tidak perlu berisik untuk diakui, tidak perlu membuka segalanya untuk dianggap nyata. Ia cukup menjadi seperti rumah yang baik: terbuka pada tempatnya, hangat pada ruangnya, dan jujur dalam prosesnya. Karena di situlah, kehidupan menemukan keseimbangan—dan manusia kembali menemukan dirinya sendiri.

2/15/2026

Dalā’ilul Khairāt (Kitab yang Membawa Cahaya Shalawat ke Seluruh Dunia)

Dalā’ilul Khairāt bukan sekadar kitab. Ia seperti pintu yang dibuka pelan-pelan, hingga kita sadar: selama ini kita hidup terlalu jauh dari cahaya yang paling lembut. Kita terlalu sibuk mengejar makna, tapi lupa bahwa makna paling dalam sering turun lewat satu hal yang sederhana—shalawat.

Ada kitab-kitab yang dibaca untuk menambah ilmu. Ada kitab-kitab yang dibaca untuk menambah dalil. Tapi Dalā’ilul Khairāt dibaca untuk sesuatu yang jauh lebih sunyi: menambah rindu. Dan rindu, bagi orang beriman, bukan sekadar rasa. Rindu adalah arah. Rindu adalah kompas. Rindu adalah tanda bahwa hati kita masih hidup.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua orang ingin segera sampai. Segera kaya. Segera terkenal. Segera aman. Segera selesai. Tapi Dalā’ilul Khairāt mengajarkan sesuatu yang berlawanan: tenanglah… jangan buru-buru… yang penting bukan cepat, yang penting benar. Karena hidup bukan soal berlari, tapi soal pulang.

Dalā’ilul Khairāt lahir dari seorang wali yang memandang dunia seperti orang yang memandang bayangan: ada, tapi bukan tempat tinggal. Imam Sulaiman Al-Jazuli tidak menyusun kitab ini dari ambisi. Ia menyusunnya dari satu peristiwa yang mengguncang batin: ketika ia melihat seorang anak kecil yang hatinya begitu bersih, hingga Allah memuliakannya. Anak itu tidak punya gelar, tidak punya kitab tebal, tidak punya majelis besar. Tapi ia punya sesuatu yang langit kenal baik: shalawat yang tulus.

Sejak saat itu, Imam Al-Jazuli seperti menemukan rahasia yang selama ini tersembunyi di depan mata. Bahwa kedekatan kepada Allah bukan hanya lewat banyaknya ilmu, tapi lewat cinta yang benar. Dan cinta yang paling benar adalah cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sebab Nabi bukan sekadar tokoh sejarah. Nabi adalah jalan. Nabi adalah rahmat yang berjalan. Nabi adalah pintu adab bagi jiwa yang ingin selamat.

Dalā’ilul Khairāt adalah kitab yang mengajari kita untuk menyebut nama Nabi bukan dengan bibir, tapi dengan hati. Mengingat beliau bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang hidup dalam kehidupan hari ini. Kita sering berkata: “Aku mencintai Rasulullah.” Tapi cinta bukan slogan. Cinta adalah kebiasaan. Cinta adalah disiplin. Cinta adalah kesetiaan yang diam-diam.

Maka orang yang membaca Dalā’ilul Khairāt sesungguhnya sedang melatih jiwanya agar menjadi manusia yang halus. Ia sedang membersihkan batinnya dari keras, dari dengki, dari dendam, dari rasa ingin menang sendiri. Sebab shalawat itu seperti air yang lembut—tapi ia mampu mengikis batu yang paling keras. Shalawat tidak berteriak, tapi ia mengubah.

Ada orang yang hidupnya penuh kegelisahan. Ada yang hatinya seperti rumah tanpa lampu. Ada yang banyak tertawa tapi dalamnya rapuh. Ada yang tampak kuat tapi diam-diam takut. Dan sering kali kita mencoba menenangkan diri dengan hal-hal yang ramai: hiburan, perjalanan, belanja, pengakuan, pujian. Tapi Dalā’ilul Khairāt datang sebagai pelajaran: ketenangan bukan dicari di luar, ketenangan turun dari atas.

Shalawat adalah doa yang unik. Ia tidak hanya memohon. Ia memuliakan. Ia tidak hanya meminta. Ia mencintai. Ia tidak hanya mengangkat kebutuhan kita, tetapi mengangkat adab kita. Dan adab, dalam jalan ruhani, adalah segalanya. Karena orang yang tidak punya adab, walau ilmunya banyak, akan tetap jauh. Sedangkan orang yang punya adab, walau ilmunya sedikit, akan dekat.

Membaca Dalā’ilul Khairāt itu seperti duduk di bawah langit yang luas. Kita mengulang nama Nabi, bukan untuk menghafal, tetapi untuk membasuh. Setiap shalawat seperti satu sapuan yang membersihkan debu-debu batin: debu ambisi, debu sombong, debu kecewa, debu marah, debu putus asa. Sampai akhirnya hati menjadi jernih. Dan ketika hati jernih, hidup tidak lagi menakutkan.

Karena orang yang dekat kepada Nabi, akan dibimbing untuk dekat kepada Allah. Dan orang yang dekat kepada Allah, tidak akan tenggelam oleh dunia. Dunia tetap ada, masalah tetap ada, tanggung jawab tetap ada, tapi batinnya tidak hancur. Ia tetap berdiri, bukan karena ia hebat, tetapi karena ia ditopang oleh rahmat.

Dalā’ilul Khairāt juga mengajarkan bahwa mencintai Nabi itu bukan hanya soal menangis ketika Maulid, bukan hanya soal merinding ketika qasidah, bukan hanya soal terharu ketika kisah. Cinta kepada Nabi adalah meniru akhlaknya dalam hal-hal kecil: menahan lisan, menjaga janji, memaafkan, tidak merendahkan orang, tidak menipu, tidak zalim, tidak sombong, tidak menyakiti.

Maka Dalā’ilul bukan kitab “keajaiban” yang menjanjikan dunia. Ia adalah kitab pembentuk manusia. Ia membentuk manusia yang lembut tapi kuat. Manusia yang berani tapi santun. Manusia yang tegas tapi tidak kasar. Manusia yang mencintai tapi tidak cengeng. Manusia yang taat tapi tidak merasa paling benar.

Dan di situlah letak keindahannya: Dalā’ilul Khairāt tidak hanya mengisi waktu ibadah kita, tetapi mengisi kualitas jiwa kita. Ia menumbuhkan sesuatu yang sangat langka di zaman ini: keteduhan.

Di pesantren, Dalā’ilul Khairāt sering dibaca berjamaah. Ada suara yang pelan tapi penuh. Ada irama yang tidak dibuat-buat. Ada suasana yang sulit dijelaskan. Seolah-olah majelis itu bukan hanya dipenuhi manusia, tetapi dipenuhi malaikat. Seolah-olah udara menjadi lebih ringan. Seolah-olah beban hidup yang berat tiba-tiba punya tempat untuk diletakkan.

Dan mungkin itulah yang dicari manusia modern: bukan jawaban yang rumit, tetapi tempat untuk pulang. Dalā’ilul Khairāt menjadi rumah bagi hati yang lelah.

Ketika kita membaca shalawat, kita sebenarnya sedang berkata: “Ya Allah, aku ini penuh kekurangan. Aku ini banyak dosa. Aku ini mudah lalai. Tapi aku tahu satu hal: aku mencintai kekasih-Mu. Dan aku berharap, karena cinta itu, Engkau tidak membuangku.”

Itulah rahasia shalawat. Ia bukan kesempurnaan. Ia adalah pengakuan bahwa kita lemah—dan karena itu kita ingin bersandar pada yang paling mulia.

Maka siapa pun yang berjalan bersama Dalā’ilul Khairāt, sejatinya sedang berjalan bersama cahaya. Tidak selalu langsung kaya. Tidak selalu langsung selesai masalah. Tidak selalu langsung lapang. Tapi hatinya berubah: ia lebih sabar, lebih ridha, lebih kuat, lebih halus, lebih percaya kepada Allah.

Dan pada akhirnya, mungkin inilah pesan terbesar Dalā’ilul Khairāt:

Bahwa hidup ini tidak harus selalu dimenangkan.

Tidak harus selalu dibuktikan.

Tidak harus selalu dipertontonkan.

Hidup ini cukup dijalani dengan cinta yang benar.

Dan cinta yang benar akan selalu membawa kita kepada Rasulullah ﷺ.

Dan Rasulullah ﷺ akan selalu membawa kita kepada Allah.

Karena di ujung segala keresahan, segala ambisi, segala luka, segala pencarian—yang paling kita butuhkan bukanlah dunia yang lebih besar, tetapi hati yang lebih dekat.

Dan Dalā’ilul Khairāt, dengan shalawatnya yang lembut, adalah salah satu jalan paling indah menuju kedekatan itu.

10/16/2025

Pesantren antara Tuduhan Perbudakan dan Krisis Epistemik: Sebuah Refleksi atas Kebhinekaan

Pesantren antara Tuduhan Perbudakan dan Krisis Epistemik: Sebuah Refleksi atas Kebhinekaan

Pendahuluan

Tuduhan perbudakan terhadap sistem pesantren yang mencuat dalam diskursus publik Indonesia kontemporer sesungguhnya bukan sekadar persoalan praktik pendidikan atau pola relasi santri-kiai. Persoalan ini mengakar pada dua dimensi fundamental: **krisis epistemik** dalam memahami sistem pendidikan tradisional dan **kegagalan mengimplementasikan prinsip Bhinneka Tunggal Ika** sebagai kerangka filosofis kehidupan berbangsa. Esai ini akan mengurai bagaimana kedua dimensi tersebut berperan dalam memunculkan persepsi negatif terhadap pesantren.

Krisis Epistemik: Ketika Modernitas Menjadi Satu-satunya Ukuran

Hegemoni Epistemologi Barat

Michel Foucault dalam *The Archaeology of Knowledge* menjelaskan bahwa setiap era memiliki **episteme**—sistem pengetahuan yang menentukan apa yang dianggap benar dan sah. Tuduhan perbudakan terhadap pesantren mencerminkan hegemoni epistemologi modern-Barat yang mengukur segala bentuk relasi sosial dengan standar individualistik dan transaksional.


Boaventura de Sousa Santos memperkenalkan konsep **epistemicide** (pembunuhan epistemologi) untuk menggambarkan bagaimana pengetahuan lokal dan tradisional dianggap inferior atau bahkan tidak sah. Pesantren, dengan sistem **ngabdi** (pengabdian santri kepada kiai) dan **barokah** (berkah spiritual), diukur dengan standar hubungan kerja kapitalistik modern yang mengutamakan kontrak, upah, dan jam kerja terukur.

Contoh Konkret

Ketika santri membantu kiai dalam aktivitas sehari-hari—memasak, bercocok tanam, atau membangun gedung pesantren—praktik ini dilihat sebagai "eksploitasi tenaga kerja anak" oleh perspektif modern. Padahal, dalam epistemologi pesantren, ini adalah bagian dari **ta'dib** (pendidikan karakter) dan **tarbiyah** (pembentukan kepribadian). Seperti dijelaskan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tradisi ini membentuk **etos kerja, kemandirian, dan solidaritas sosial** yang menjadi modal spiritual santri.

Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang didirikan KH. Hasyim Asy'ari, menerapkan sistem kerja kolektif santri dalam mengelola sawah dan peternakan. Ini bukan perbudakan, melainkan **pendidikan ekonomi berbasis komunal** yang mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab.

Kegagalan Implementasi Bhinneka Tunggal Ika

Pluralisme Epistemologis sebagai Inti Kebhinekaan

Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar toleransi terhadap perbedaan etnis atau agama, tetapi juga **pengakuan terhadap pluralitas sistem pengetahuan** (*epistemic pluralism*). Clifford Geertz dalam penelitiannya tentang Islam di Jawa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tradisi sinkretisme yang mengintegrasikan berbagai sistem nilai—animisme, Hindu-Buddha, Islam, dan modernitas.

Namun, narasi dominan tentang pendidikan di Indonesia pasca-Orde Baru cenderung **monolitik** dan berorientasi pada standar universal yang sesungguhnya adalah standar Barat. Ujian Nasional, kurikulum terstandar, dan pengukuran kualitas pendidikan berbasis angka adalah manifestasi dari **epistemological monoculture** yang tidak memberi ruang bagi keberagaman sistem pendidikan.

Diskriminasi Epistemologis

Yudi Latif dalam *Negara Paripurna* menjelaskan bahwa Indonesia memerlukan **state recognition** terhadap keragaman sistem pendidikan sebagai bagian dari kebhinekaan. Pesantren, yang telah berkontribusi pada pendidikan Indonesia sejak abad ke-15, justru dimarjinalkan dan dicurigai karena berbeda dari sistem sekolah formal.

Tuduhan perbudakan adalah bentuk **diskriminasiepistemologis**—ketidakmampuan atau ketidakmauan mengakui bahwa ada cara lain yang sah dalam mendidik dan membentuk manusia. Seperti dijelaskan Nurcholish Madjid, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu (**transfer of knowledge**), tetapi juga membentuk karakter (**transfer of values**) melalui **keteladanan hidup** (uswah hasanah), yang tidak bisa dicapai dengan sistem kelas formal.

Contoh Relevan

Pesantren Lirboyo di Kediri mempertahankan sistem **sorogan** (santri menghadap kiai satu per satu untuk belajar kitab kuning) dan **bandongan** (pembelajaran klasikal kitab klasik). Sistem ini dianggap "kuno" oleh standar modern, padahal menghasilkan ulama-ulama besar seperti KH. Maimun Zubair yang menguasai puluhan ribu hadis secara hafalan—sesuatu yang sulit dicapai sistem pendidikan formal.

Dialektika antara Tradisi dan Modernitas

Bukan Anti-Modernitas, tetapi Multi-Modernitas

Penting ditegaskan bahwa kritik terhadap hegemoni epistemologi modern bukan berarti menolak modernitas atau membiarkan praktik bermasalah. Dilip Parameshwar Gaonkar memperkenalkan konsep **alternative modernities**—bahwa modernitas bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, tidak harus mengikuti pola Barat.

Pesantren modern seperti **Gontor** telah menunjukkan bahwa sistem nilai pesantren bisa diintegrasikan dengan kurikulum modern, teknologi, dan manajemen organisasi tanpa kehilangan ruhnya. Demikian pula **Pesantren Daarut Tauhiid** di Bandung yang mengintegrasikan kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi dalam sistem pesantrennya.

Evaluasi Kritis tanpa Delegitimasi

Yang diperlukan adalah **evaluasi kritis** terhadap praktik-praktik pesantren yang mungkin bermasalah (seperti kekerasan, eksploitasi ekonomi berlebihan, atau penelantaran kesehatan santri) tanpa mendelegitimasi seluruh sistem epistemologisnya. Seperti dikemukakan Seyyed Hossein Nasr, tradisi religius memerlukan **tajdid** (pembaruan) bukan **tabdil** (penggantian total).

Menuju Dialog Epistemologis

Hermeneutika Antar-Budaya

Hans-Georg Gadamer dalam teori **philosophical hermeneutics** menekankan pentingnya **fusion of horizons**—peleburan cakrawala pemahaman antara pengamat dan yang diamati. Untuk memahami pesantren, diperlukan **empati epistemologis**—kesediaan memahami sistem dari dalam (verstehen) sebelum menghakimi dari luar.


Dialog epistemologis ini memerlukan:

  1. Pengakuan negara terhadap keberagaman sistem pendidikan (constitutional recognition)R
  2. Regulasi yang akomodatif terhadap kekhususan pesantren tanpa memaksakan standarisasi berlebihan
  3. Pendampingan untuk perbaikan praktik bermasalah tanpa stigmatisasiK
  4. Kajian etnografis yang mendalam tentang dinamika internal pesantren

 Kesimpulan

Tuduhan perbudakan terhadap pesantren adalah **gejala dari krisis epistemik** yang lebih dalam dalam masyarakat Indonesia modern—ketidakmampuan menghargai keberagaman sistem pengetahuan dan pendidikan. Ini juga menunjukkan **kegagalan implementasi Bhinneka Tunggal Ika** yang sejati, yang seharusnya tidak hanya mengakui keragaman etnis dan agama, tetapi juga **pluralisme epistemologis**.

Solusinya bukan memodernisasi pesantren secara paksa atau membiarkan praktik bermasalah, melainkan membangun **dialog epistemologis** yang mengakui legitimasi sistem pendidikan tradisional sambil mendorong transformasi internal yang organik. Seperti dikatakan Mohammad Arkoun, yang diperlukan adalah **critique of Islamic reason** dari dalam, bukan penghakiman dari luar dengan standar asing.

Pesantren telah membuktikan resiliensinya selama berabad-abad dan telah melahirkan tokoh-tokoh yang berkontribusi besar bagi Indonesia. Sudah saatnya kita melihat pesantren bukan sebagai **anomali yang harus dinormalisasi**, tetapi sebagai **alternatif yang harus dihargai** dalam kerangka kebhinekaan Indonesia yang sesungguhnya.

9/01/2025

Pemuka Agama: Lentera atau Pemadam Kebakaran?

Ada keganjilan yang terasa: mengapa ketika api keresahan rakyat membara, para pemuka agama dipanggil bukan untuk menyalakan jalan terang, melainkan hanya untuk meredakan gejolak?

Suara ormas dan tokoh agama kerap terdengar bagai gema kekuasaan, bukan pantulan jeritan hati umat. Padahal, mereka yang turun ke jalan bukanlah kelompok yang berafiliasi dengan ormas, melainkan rakyat kecil yang terhimpit lapar, dihimpit beban hidup, dan ditusuk rasa ketidakadilan.

Di sinilah getirnya: ajaran agama yang seharusnya menjadi suluh dan penuntun, justru diposisikan sekadar sebagai “air penenang.” Pemuka agama berubah menjadi pemadam kebakaran, bukan cahaya yang menyulut keberanian dan harapan.

Padahal, agama sejatinya adalah energi ruhani: ia memberi arah, menyalakan cinta, menegakkan keadilan. Ulama bukan hanya pelengkap legitimasi, tetapi seharusnya penyambung lidah umat—menyampaikan keresahan mereka tentang PHK yang merajalela, biaya hidup yang mencekik, arogansi kuasa, korupsi yang menggurita, serta jarak yang makin jauh dari keadilan.

Seruan “NKRI Harga Mati” pun sering digaungkan. Namun maknanya bukanlah jargon kosong. Membela tanah air berarti menjaga kehidupan rakyatnya—perutnya, suaranya, dan masa depannya. Bila amanat tergadai, ulama yang sejati semestinya berani mengingatkan, bukan sekadar menenangkan.

Yang ditunggu umat bukanlah khutbah pereda luka, tetapi seruan yang menyingkap akar derita. Yang mereka rindukan bukan sekadar doa yang mengalirkan air mata, melainkan hikmah yang menyalakan kesadaran.

Imam al-Ghazali telah mengingatkan dengan jernih:

‎وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ.

“Kerusakan rakyat bersumber dari rusaknya penguasa. Penguasa rusak karena rusaknya ulama. Seandainya tiada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan penguasa berkurang, sebab mereka takut terhadap teguran ulama.”

Maka, bila agama hanya hadir untuk meredam, umat akan merasa kehilangan pelita. Tetapi bila agama hadir untuk menegakkan kebenaran, meski pahit, maka ulama menjadi lentera yang tetap menyala di tengah gulita zaman.


8/22/2025

PIDATO GUBERNUR JAWA BARAT KDM PADA RAPAT PARIPURNA DPRD PROVINSI JAWA BARAT HARI JADI JAWA BARAT KE 80 TAHUN

Saya menyampaikan permohonan maaf karena dana rutinnya terus saya potong, saya alihkan untuk pembangunan jalan dan sekolah. Mungkin kita bertanya, kenapa kita memulai pembangunan dengan menceritakan akar kebudayaan? Saya menyampaikan, tidak ada satuun bangsa di dunia ini yang mencapai kemajuan dalam pembangunan peradaban bangsanya, kecuali yang terikat pada konstitusi bangsanya. Konstitusi di negara-negara maju itu adalah konstitusi yang mempertahankan nilai tradisi yang terjadi pada masanya dan itu terejawantahkan dalam bentuk konstitusi.

Inggris bangunannya tetap masa lalu. Amerika bangunannya tetap masa lalu. Indonesia punya bangunan bangunan masa lalu adalah hanya dua. Satu cerita sejarah yang kedua adalah peninggalan kolonial. Pembangunan bukan rangkaian teknokratik yang hanya didasarkan pada pikiran-pikiran akademik. Pembangunan bukan kalimat kalimat fakta yang ditulis dalam buku-buku peraturan daerah tentang anggaran belanja pembangunan daerah.

Pembangunan adalah ritme sejati tentang keselarasan manusia dengan alamnya. Keselarasan manusia dengan tanah, air, udara, dan mataharinya adalah ritme indah yang di mana kita diberikan alam yang indah bernama tanah Jawa Barat, tanah Sunda. Punya gunung yang nunga jentul, punya air yang mengalir, punya sawah yang terhampar, punya lautan dan samudra yang sangat luas.

Seluruh tata nilai itu ada dalam naskah siksa kandang karesian yang menceritakan tentang tata ruang yang disebut dengan gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan yang disebut dengan tritang tu dibuana. Sanghang siksa kandang menceritakan tentang sipil society yaitu trias politika Rama resi, dan Prabu. 

Seluruh nilai-nilai itu kita tinggalkan seolah kita akan menggapai masa depan. Seolah kita adalah kaum akademik yang tidak perlu catatan masa lalu. Seolah kita akan pergi ke depan dengan hanya menggunakan buku kesempatan kita yang kita bangun dalam narasi-narasi politik. Tetapi kita lupa ternyata 80 tahun Jawa Barat terbangun, ternyata seluruh rangkaian itu tidak menjadi fakta. Kenapa? Kemiskinan masih menganga jalan hancur di mana-mana. Hari ini kita punya derita. Seorang anak bernama berumur 3 tahun, berasal dari Kabupaten Sukabumi pada sebuah kampung terpencil. Ibunya ODGJ. Bapaknya mengalami TBC. Anak itu tiap hari dikolong. Dia meninggal di rumah sakit dalam keadaan seluruh cacing-cacing keluar dari mulut dan hidungnya. Betapa kita gagap dan betapa kita lalai. Kenapa? Perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun Epanti. Kenapa? Manusia tidak terbangun dalam nalar dan rasa.

Semua orang bicara anggaran, semua orang bicara keuangan. Dia lupa bahwa di balik anggaran ada rasa dan cinta yang bisa mengadakan yang ada, mentiadakan yang tiada. Kerangka itu adalah koreksi diri. Dan saya memutuskan terhadap desa itu memberikan hukuman. Saya tunda bantuan desanya karena desanya tidak mampu ngurus warganya. 

Kerangka ini harus dibangun. Kenapa? Kita bertugas mengemban amanah. Titah dari Allah. Seluruh titah dari Allah harus kita pahami apa yang di kita lihat dalam rangkaian peristiwa alam. Maka cerita Jawa Barat yang dulu bersama Banten pasti dimulai dari dari Taruma negara.

Taruman negara menceritakan tentang apa? Taruma negara menceritakan tentang kepemimpinan yang mengelola air, kepemimpinan yang mampu mengelola sumber daya sungai yang mengelilingi daerah Bekasi yang diawali dari Bogor. Maka Taruma Negara menceritakan tentang peradaban air di mana kepemimpinan mampu menguasai hulu sungai dan daerah airan air serta muara yang pada akhirnya bisa menguasai lautan utara. 

Cerita itu bukan cerita mistik. Tetapi cerita fakta bahwa bangunlah peradaban Jawa Barat dengan apa? Melakukan normalisasi sungai di kali-kali Bekasi, di kali-kali Bogor. Karena itu adalah bentuk peradaban. Dan hari ini tata ruangnya berubah. Di mana sungai-sungai berubah peruntukannya, di mana sawah-sawah berubah peruntukannya. Pemukiman menghampar menghampar di Kabupaten Bekasi, di kota Bekasi dan Karawang. Banjir dalam setiap waktu. Kemiskinan tidak terselesaikan. Perbedaan kayak yang miskin terus menganga. Kenapa? Salah dalam melakukan tata ruang. 

Litbang Kompas mengatakan salah satu titik kelemahan dari kepuasan 85% adalah dua hal. Pertama adalah ekonomi. Yang kedua adalah lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan terjadi berebutannya di daerah industri. Kenapa itu terjadi? Karena kita lupa membangun konektivitas antara pendidikan dan lingkungan, pendidikan dan industri, antara dunia IT dengan keadaan masyarakat. Apa yang menjadi kelemahan masyarakat Jawa Barat? Matematika dasarnya lemah sehingga ketika seleksi mereka kalah. 

Kerangkah itu maka bergeser, orang bercerita tentang galuh. Cerita tentang galuh bercerita tentang apa? bercerita tentang bagaimana sebuah Tatar Selatan dibangun dalam kekuatan empati publik di mana ada heroisme pengorbanan seorang manusia demi kemanusiaan, demi keadilan yang pada akhirnya Galuh menceritakan tentang apa? Persenyawaan antara utara dan selatan, persenyawaan antara budaya pegunungan dengan budaya pesisir dan kemudian ada kesadaran kolektif tentang pakuan, Pajajaran. Kemudian di situ bicara tentang apa? Tentang budaya menulis di atas batu. Budaya menulis di atas batu mencerminkan apa? Dalam naskah Sanghiyang siksa kandang mengatakan rama itu perumpamaannya seperti tanah. Resi, seperti air, prabu itu seperti batu. 

Maka gurat rama adalah sipil society, keluarga yang harmonis adalah gurat tanah. Kepemilikan hak atas tanah adalah kekuatan sendi yang utama bagi sebuah masyarakat sipil society. Gemah ripah, repeh rapi. Tidak mungkin sipil society itu menguasai sebuah wilayah dan dia tidak memiliki hak pemukiman. Maka kebijakan berikutnya adalah hak kepemilikan atas tanah yang melahirkan. hak kepemilikan, pemukiman yang layak itu harus menjadi sendi utama. Di situlah rama.

Resi lambang dari guru, guru, dosen. Maka dia punya karakternya air. Dia jernih, dia menenangkan, kemudian dia mensucikan. Seluruh rangkaian itu ada dalam piranti-piranti independensi pendidikan. Independensi yang harus dibangun. Di mana guru tidak boleh berpihak pada apapun. Maka guru berpihak pada satu kebenaran yang objektif. 

Kemudian Prabu, maka dia Prabu itu adalah gurat batu. Maka dia menulis dalam batu meskipun menulisnya sulit, meskipun banyak tantangan yang dihadapi, meskipun ada gelombang penentangan yang berlangsung, tetapi seorang prabu harus punya keyakinan bahwa yang dia tuliskan adalah bukan untuk dirinya, yang dituliskan bukan untuk popularity-nya, yang dia tuliskan bukan untuk electability-nya, yang dia tuliskan adalah cerita catatan masa depan di mana kepemimpinannya menjadi legasi bagi pewarisan kepemimpinan ke depan lahir orang yang tercerdaskan lewat tulisan itu. Maka itu ada dalam cerita Galuh Pakuwan. 

Kemudian kita akhirnya memasuki sebuah era di mana Kecirebonan menebarkan sebuah nilai baru. Nilai menyempurnakan tradisinya orang Jawa Barat yang memiliki spirit silih asah, silih asih, silih asuh. Nu jauh urang deketkeun, geus deukut urang layeutkeun, geus layeut urang paheutkeun, geus paheut silih wangikeun. sebuah nilai yang terbangun dalam harmoni tatar Sunda, tetapi ada nilai syari yang harus disempurnakan. Maka cipta rasa, sirna rasa menyempurnakan rasa yang dimiliki oleh orang Sunda yang terdiri dari entitas-entitas yang hari ini memiliki keragaman dalam kebudayaan. Karena rasa, maka rasalah sebagai sendi utama untuk mengayuh pembangunan yang melahirkan gelombang kepemimpinan Sumedang Larang, Subang Larang.

Selajutnya memasuki pada sebuah era POC, kemudian kita memasuki era kemerdekaan, maka sintesanya adalah pembangunan tidak bisa didasarkan hanya pada pikiran teknokratik. Dalam bahasa kebudayaan, pembangunan tidak hanya mengandalkan saringseknya ikat, tapi pembangunan harus dibangun dalam kekuatan kancing. Caringcingnya kancing. Apa itu? Pembangunan. Bukan hanya mengandalkan intelektualision, tetapi pembangunan harus dibangun dalam piranti emosional kuision dan spiritual quision. 

Seluruh nilai-nilai itu adalah sistem nilai pendidikan yang diajarkan dalam ajaran panca waluya. Maka manusia Sunda itu adalah manusia yang harus cageur, bageur, beneur, pinter, singer. Maka Pancawaluya harus dibangun dalam sebuah gerbang. Maka hari ini pemerintah provinsi Jawa Barat mengedepankan sebelum masuk ke Pancaaluya maka kita harus masuk ke wilayah gerbang Pancaaluya. Maka gerbang itu bertujuan mengantarkan sebuah nilai ajaran yang pada akhirnya manusia Sunda, manusia Jawa Barat itu apa? Kaluhur sirungan, kehendap akaran. 

Kerangka inilah pijakan pembangunan yang kita tata. Pembangunan harus mampu melahirkan sirung, yaitu tumbuhnya benih-benih baru, tumbuhnya bunga baru, tumbuhnya buah baru melahirkan metamorfosis ke depan. Itu yang disebut dengan kiwari bihari jeung poe isuk. Maka sains adalah pendekatan. Maka teknokratik adalah pendekatan. Maka teknologi adalah pendekatan. Tetapi seluruh pendekatan itu akan mengalami perubahan dalam setiap waktu. Maka orang Sunda mengatakan harus mi indung ka waktu, mi bapa ka zaman. Pindah cai, pindah tampian.

Kerangka ini tidak bisa berjalan kalau apa? Kalau kehandap teakaran. Karena kahandap harus akaran, maka pembangunan kita harus menginjak bumi. Tidak penting dipuji orang, tidak penting bagus dalam tayangan, tidak penting reka-reka gambar dibuat-buat di media sosial. Tidak penting. Yang harus kita ceritakan adalah fakta yang sebenarnya. bukan pembangunan kamungflatif. Kalau pendidikan dasar di kita masih bermasalah, katakan bermasalah. Kalau masih ada anak SMP yang tidak bisa baca tulis, katakan itu terjadi. Kalau ada kematian ibu yang melahirkan, kematian anak, katakan itu terjadi. Kalau masih Hiv-nya meningkat, katakan itu terjadi. Untuk apa? agar kita bisa meraih sintesa. Maka seiring dengan perkembangan media sosial di mana rakyat Jawa Barat hari ini mengenal TikTok, hari ini kita bisa melihat fakta. Setiap hari rakyat bercerita apa? Bercerita tentang air bersih yang sulit didapatkan. Bercerita tentang apa? Gedung-gedung sekolah yang mau roboh tanpa toilet. Bercerita tentang apa? Jalan-jalan pemukiman yang rusak, jembatan-jembatan yang mau roboh, anak-anak menyeberang sungai Citarum menggunakan rakit. Anak-anak bergelantungan di kawat-kawat pengikat di Garut dan di Sukabumi hanya untuk sekolah. Itu cerita fakta kita. Dan seluruh fakta itu lahir lewat apa? kesadaran publik warga untuk menceritakan apa yang terjadi di tanah Jawa Barat ini.

Untuk itu, demokrasi yang dibuka, media sosial yang terbuka harus melahirkan apa? Harus melahirkan pemimpin yang peka. Harus melahirkan apa? Birokrat yang dia sidik sakti indra waspada. Apa itu? harus melahirkan birokrat pancampurna. Ceulina ngadangu, irungna ngangse, panona awas, letahna ngucap, hatena ikhlas. Maka konektivitas para birokrat untuk melihat perkembangan yang terjadi di jagat media sosial adalah kepekaan untuk membaca situasi. 

Para kepala desa harus membuka ruang rumahnya untuk dikunjungi warga dalam setiap waktu. Tidak bisa. Warga harus datang dari ujung Garut, ujung Sukabumi, ujung Cirebon, terus-terusan ke Lembur Pakuan, mereka terlalu jauh untuk berjalan. Para camat juga harus membuka diri, membuka ruangnya, terkoneksi dengan para bupatinya yang harus handphone-nya menyala, terkoneksi dengan gubernurnya. Maka kita bisa berjalan seiring dan sejalan. Sarendek, saigel, sabobot, sapihane ka cai jadi salewi, ka darat jadi salogak. Kalimat sa itulah kalimat jamak menjadi tunggal. Jamak artinya apa? Kita ada ragam, ada ragam partai politik, kita ada ragam daerah, kita ada ragam kepentingan, ada ragam baju. Tetapi seluruh keragaman itu manakala didorong oleh kebeningan hati, maka akan lahir kemanunggalan, yaitu kalimat sa, kalimat yang mempertautkan, kalimat yang mempersatukan, kalimat yang menyatukan yang tanpa jeda bahwa di antara kita yang bekerja baik legislatif, eksekutif, yudikatif, dari mulai gubernur, para ketua DPRD, para wakil ketua, para anggota, dan seluruh sampai pada tingkat RT, RW, Bupati, Walikota, Lurah, camat, Kepala Desa, kuwuk, ada yang menyatukan yaitu kalimat illah. Lailahaillallah. 

Kalimat Ilah itu adalah kalimat keikhlasan. Bahwa kita bekerja bukan untuk partai, kita bekerja bukan untuk dipilih kembali. Kita bekerja untuk apa? Sebuah pengabdian. bahwa kita mengabdi pada tetar Sunda, pada tetar Jawa Barat untuk menghilangkan kemiskinan, menghilangkan kebodohan, mengangkat derajat orang-orang miskin dan anak-anak yatim yang didengungkan oleh Rasulullah sebagai sendi utama untuk membangun kemakmuran bagi warganya.

Inilah kerangka pijak inilah yang harus dibangun di antara kita. Kita membangun bukan untuk 5 tahun. Kita membangun bukan untuk 10 tahun. Kita membangun bukan untuk kita. Kita membangun untuk masa depan anak cucu kita. Kita dititipi gedung merdeka ini. Hasil karya kolonial. Kita berada digedung sate. Hasil karya kolonial. Pertanyaannya adalah apa yang kita titipkan bagi generasi Jawa Barat ke depan kalau kita tidak punya nilai-nilai filosofi yang besar dan mendasar.

Untuk itu semoga pembangunan di Jawa Barat, lembur diurus kota ditata adalah rangkaian lagu yang tidak pernah berakhir dalam irama angin, irama air, irama matahari, dan kemudian pada akhirnya bisa memaknai simbol-simbol peradaban yang seringkali orang mengatakan kemusyrikan. Simbol peradabannya apa? Orang Cina mengenal yin dan yan. maskulin dan feminin sebagai bentuk peradaban dia mensimbolkan filosofi tentang manusia. 

Orang Sunda itu punya tiga simbolisasi. Yang pertama, kalau laut selatan itu mengambil filosofi kebudayaan Jawa, maka dilambangkan dalam simbol putri yang cantik bernama Nyi Ratu. itu cermin bahwa laut kalau diurus maka dia akan menjadi putri yang sangat cantik. Harus dijaga kehormatannya tidak boleh diambil terumbuk karangnya tidak boleh lagi ada berbagai aktivitas yang merusak ke lautan.

Kemudian yang kedua, simbol dari gunung dan hutan. Maka orang Sunda mengatakan itu adalah Abah, Eyang, Uyut, Siliwangi, Maung, Panjajaran. Dia adalah lambang kehormatan Gunung, maka seluruh kehormatannya dijaga dalam simbolnya. Kenapa? Karena kemuliaan, ketentraman, dan kenyamanan rakyat Sunda tergantung gunungnya. Kalau gunung dijaga kehormatannya, maka kita terbebas dari kemiskinan dan terbebas dari bencana. 

Yang ketiga adalah simbol dari tanah. Maka disebutlah Sunan Ambu, lambang dari seorang ibu yang harus dihargai dan dihormati. Maka perlakukanlah tanah yang kita pijak ini seperti kita memerlakukan ibu kita. Sunan Ambu dalam kaidah Sunda, dalam kaidah Nusantara yang diajarkan oleh Bung Karno disebutnya adalah Ibu Pertiwi. Kalau hari ini pengelolaan tanah kita rusak, kalau hari ini tanah tidak pernah kita hormati untuk menerima air, kalau hari ini tanah menjadi rebutan hanya untuk menumpuk kekayaan, sesungguhnya kita adalah orang yang durhaka pada ibu kita.

Untuk itu saya meyakini perjalanan 6 bulan saya memimpin dengan Kang Erwan adalah perjalanan yang baru meletakkan kerangka dasar. Apa yang kami raih dalam 6 bulan bukan hasil kami, tapi hasil seluruh masyarakat Jawa Barat. hasil pimpinan dan anggota DPRD dari mulai provinsi sampai kabupaten kota hasil dari seluruh jajaran para bupati walikota sampai para ketua RT dan RW-nya. Mari kita bersama membangun Jawa Barat. Pahuyekuk-heyuk leungeun, paantai-antai tangun. Sareundeuk, saigel, sapubut, sapihanean. Kacai jadi salewi, darak jadi salogak.