“Ketika Mata Diajari Melihat”
Barangkali ada suatu masa dalam kehidupan ketika seseorang tiba-tiba berhenti sejenak dari kesibukan yang selama ini dijalaninya, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: sebenarnya siapa saya? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin sulit dijawab. Selama ini kita begitu mudah menjelaskan diri dengan nama, pekerjaan, jabatan, pendidikan, keluarga, organisasi, pencapaian, bahkan dengan pandangan orang lain terhadap kita. Kita berkata, “Saya kepala madrasah.” “Saya guru.” “Saya orang pesantren.” “Saya pengusaha.” “Saya orang berilmu.” Tetapi semua itu sebenarnya hanya menjelaskan apa yang sedang kita jalankan, bukan siapa kita ketika seluruh peran itu dilepaskan.
Jabatan dapat berakhir. Nama dapat dilupakan. Kekayaan dapat berpindah tangan. Pengaruh dapat menghilang. Tubuh akan menua. Orang-orang yang hari ini mengenal kita suatu hari mungkin tidak lagi mengingat nama kita. Bahkan apa yang hari ini kita sebut sebagai “milik saya” pada akhirnya akan kembali kepada kehidupan tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita. Lalu, ketika satu demi satu identitas itu dicabut, apa yang tersisa? Pertanyaan inilah yang perlahan membawa saya masuk ke dalam perjalanan yang berbeda: bukan lagi sekadar perjalanan untuk mengetahui dunia, melainkan perjalanan untuk mengenali diri sendiri.
Mungkin sejak awal saya memang bukan manusia yang mudah puas dengan jawaban pertama. Ada sesuatu di dalam diri yang selalu ingin melihat lebih jauh dari apa yang tampak. Ketika berhadapan dengan sebuah peristiwa, saya ingin mengetahui sebabnya. Ketika menemukan sebuah pemikiran, saya ingin tahu dari mana ia berasal. Ketika membaca kitab, saya ingin mengetahui konteksnya. Ketika mendengar pendapat, saya ingin mengetahui dasar pemikirannya. Ketika melihat sebuah kebijakan, saya ingin bertanya siapa yang membuatnya, untuk apa, dan apa akibatnya bagi manusia. Saya tidak selalu menemukan jawaban, tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat hidup terasa bergerak.
Saya mulai menyadari bahwa manusia tidak hanya membutuhkan jawaban. Manusia membutuhkan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang benar. Sebab jawaban yang benar sekalipun dapat kehilangan makna jika diberikan kepada pertanyaan yang keliru. Karena itu saya sering merasa bahwa belajar bukan sekadar menambah pengetahuan. Belajar adalah memperluas cara melihat. Kita membaca buku agar pandangan tidak sempit, belajar dari guru agar pengalaman tidak dimulai dari nol, membaca sejarah agar tidak mengulangi kebodohan yang sama, dan mendalami agama agar kehidupan tidak kehilangan arah. Tetapi semakin banyak membaca, semakin saya memahami bahwa pengetahuan tentang dunia tidak otomatis membuat seseorang mengenal dirinya.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kesabaran tetapi belum tentu sabar. Ia dapat berbicara panjang tentang keikhlasan tetapi masih kecewa ketika tidak dihargai. Ia dapat menjelaskan tentang tawakal tetapi gelisah ketika rencana tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan. Ia dapat berbicara tentang kematian tetapi masih sangat takut kehilangan sesuatu yang dicintainya. Ia dapat berbicara tentang Tuhan tetapi tetap membutuhkan pengakuan manusia. Di situlah saya mulai memahami bahwa ilmu yang paling sulit bukanlah ilmu tentang dunia, melainkan ilmu tentang diri sendiri.
Mungkin karena itu saya selalu merasa ada dua dunia yang berjalan bersamaan dalam diri: dunia pikiran dan dunia rasa. Akal bertanya tentang kebenaran, sedangkan rasa bertanya tentang makna. Akal membedah, rasa menghayati. Akal membutuhkan alasan, rasa membutuhkan pengalaman. Saya tidak ingin memilih salah satunya. Saya ingin keduanya berjalan bersama, karena hidup yang hanya mengandalkan akal dapat menjadi kering, sementara hidup yang hanya mengikuti rasa dapat kehilangan arah. Akal membutuhkan kejernihan, rasa membutuhkan kedalaman, dan keduanya membutuhkan tindakan agar tidak berhenti sebagai wacana.
Karena itu mungkin tampak aneh jika dalam satu waktu saya dapat berbicara tentang ruh, nafs, kematian, tasawuf, dan hakikat manusia, lalu tidak lama kemudian berpikir tentang pendidikan, fasilitas madrasah, olahraga siswa, kewirausahaan, pertanian, peternakan, lingkungan, atau bagaimana membuat sebuah program benar-benar berjalan. Tetapi bagi saya, semua itu sebenarnya tidak terpisah. Saya sedang mencari titik temu antara dunia batin dan dunia nyata. Saya ingin spiritualitas yang tidak berhenti di atas sajadah, dan saya ingin pekerjaan duniawi yang tidak kehilangan ruh. Sebab apa gunanya berbicara tentang kebaikan jika tidak pernah menjadi kebaikan yang dirasakan orang lain?
Mungkin di situlah saya mulai memahami pendidikan dengan cara yang berbeda. Madrasah bukan sekadar bangunan. Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi. Siswa bukan sekadar angka dalam daftar hadir. Program bukan sekadar kegiatan yang harus dilaksanakan. Di balik semuanya ada manusia. Ada anak-anak yang sedang mencari arah. Ada guru yang juga memiliki persoalan hidup. Ada orang tua yang menyimpan harapan. Ada masyarakat yang mungkin belum sepenuhnya percaya. Ada lembaga yang sedang berusaha bertahan sekaligus bertumbuh. Dan di tengah semua itu saya ditempatkan dalam sebuah posisi yang bernama kepemimpinan.
Menjadi kepala madrasah pada akhirnya mengajarkan saya bahwa memimpin manusia jauh lebih rumit daripada membuat program. Program dapat ditulis. Jadwal dapat disusun. Struktur organisasi dapat dibuat. Tetapi manusia tidak pernah sesederhana tabel dan dokumen. Manusia membawa pengalaman, luka, harapan, ketakutan, ambisi, dan keterbatasannya masing-masing. Karena itu kepemimpinan perlahan saya pahami bukan sebagai hak untuk mengatur, melainkan sebagai amanah untuk menjaga.
Ada perbedaan yang sangat besar antara kekuasaan dan amanah. Ketika jabatan dipandang sebagai kekuasaan, orang lain harus mengikuti kita. Tetapi ketika jabatan dipandang sebagai amanah, pertanyaan yang muncul justru berbeda: apa yang harus saya jaga, siapa yang harus saya bantu tumbuh, apa yang harus saya perbaiki, dan apa yang akan terjadi setelah saya tidak lagi berada di sini?
Pertanyaan terakhir itu semakin lama terasa semakin penting. Sebab mungkin ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang bergantung kepadanya, melainkan seberapa banyak manusia yang mampu berdiri karena pernah dipimpinnya. Pemimpin yang baik bukan yang membuat dirinya tidak tergantikan, tetapi yang menyiapkan orang lain agar mampu melanjutkan pekerjaan ketika dirinya tidak lagi ada.
Namun kekuasaan memiliki cara yang sangat halus untuk memasuki hati. Ia tidak selalu datang dalam bentuk ambisi besar. Kadang ia datang dalam bentuk keinginan sederhana untuk didengar, keinginan untuk dianggap benar, keinginan agar keputusan kita dihormati, keinginan agar orang memahami visi kita, bahkan keinginan agar orang mengakui bahwa apa yang kita lakukan adalah bentuk pengabdian. Semua itu manusiawi. Tetapi justru karena manusiawi, ia harus diawasi.
Sebab seseorang dapat memulai kepemimpinan dengan niat mengabdi, lalu perlahan membutuhkan kekuasaan untuk merasa berarti. Ia dapat memulai dengan keinginan memperbaiki keadaan, kemudian tanpa sadar menjadi orang yang merasa keadaan hanya akan baik jika mengikuti caranya. Pada titik itulah jabatan mulai berubah dari amanah menjadi identitas.
Maka saya perlu terus mengingatkan diri sendiri: saya bukan jabatan saya. Saya hanya sedang menjalankan amanah melalui jabatan itu. Jika suatu hari jabatan itu selesai, saya tetap manusia. Jika suatu hari tidak ada lagi yang memanggil saya dengan gelar, saya tetap manusia. Jika suatu hari orang tidak lagi membutuhkan keputusan saya, saya tetap manusia. Dan jika suatu hari semua itu berakhir, saya tetap seorang hamba yang akan kembali kepada Tuhan.
Kalimat sederhana itu ternyata memiliki kedalaman yang panjang. Sebab ketika jabatan menjadi identitas, kritik terasa seperti penghinaan. Ketika jabatan menjadi amanah, kritik dapat menjadi informasi. Ketika jabatan menjadi identitas, kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan diri. Ketika jabatan menjadi amanah, pergantian hanyalah pergantian tugas.
Saya juga semakin memahami bahwa ilmu memiliki hubungan yang rumit dengan ego. Saya mencintai buku, menghormati kitab, menghargai guru, dan percaya bahwa manusia harus belajar. Tetapi semakin banyak membaca, semakin saya merasa bahwa buku tidak boleh menjadi penjara bagi pikiran. Buku adalah jendela. Kitab adalah peta. Guru menunjukkan jalan. Tetapi murid tetap harus berjalan.
Membaca tentang laut tidak sama dengan pernah berlayar. Membaca tentang kesabaran tidak sama dengan diuji. Membaca tentang kehilangan tidak sama dengan kehilangan. Membaca tentang kematian tidak sama dengan berdamai dengan kematian. Dan membaca tentang Tuhan tidak sama dengan mengenal Tuhan.
Karena itu saya mulai melihat ilmu bukan sebagai kumpulan jawaban, melainkan sebagai perjalanan yang terus menguji diri. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling tahu. Sebab semakin banyak yang diketahui, semakin jelas betapa luasnya sesuatu yang belum diketahui.
Saya menyukai kebebasan berpikir. Saya tidak mudah puas dengan kalimat, “Memang dari dulu begitu.” Saya ingin bertanya: mengapa? Apa dasarnya? Siapa yang mengatakan? Dalam konteks apa? Apakah masih relevan? Apa akibatnya? Saya merasa manusia harus mempunyai keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah mapan.
Tetapi saya juga belajar bahwa kemampuan mengkritik dapat menjadi jebakan yang sangat halus. Ada orang yang merasa dirinya lebih bebas hanya karena tidak mau mengikuti pendapat orang lain. Ada yang merasa lebih cerdas karena mampu membantah. Ada yang menjadikan kritik sebagai identitas. Padahal kebebasan berpikir bukan sekadar kemampuan mengatakan tidak. Kebebasan berpikir adalah kemampuan menerima kebenaran meskipun kebenaran itu memaksa kita meninggalkan pendapat sendiri.
Maka ada satu pertanyaan yang harus terus saya bawa: apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari pembenaran?
Keduanya terdengar hampir sama, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Orang yang mencari pembenaran akan mempertahankan pendapatnya. Orang yang mencari kebenaran bersedia kehilangan pendapatnya.
Di titik ini saya mulai melihat ego dengan cara yang berbeda. Ego tidak selalu berkata, “Saya hebat.” Kadang ia datang dengan suara yang jauh lebih halus: “Saya hanya ingin membantu.” “Saya hanya ingin meluruskan.” “Saya hanya ingin kebenaran.” Kalimat-kalimat itu bisa benar, tetapi bisa pula menjadi pakaian yang sangat halus bagi ego.
Karena itu saya tidak ingin terlalu cepat percaya kepada gambaran baik tentang diri sendiri. Saya tidak ingin merasa telah ikhlas hanya karena mampu berbicara tentang keikhlasan. Saya tidak ingin merasa telah berserah hanya karena mampu menjelaskan tawakal. Saya tidak ingin merasa sudah bebas dari ego hanya karena sudah mengenal istilah ego.
Sebab diri tidak diuji ketika semuanya berjalan sesuai keinginan. Diri diuji ketika rencana gagal. Ketika kritik datang. Ketika orang tidak mengikuti. Ketika seseorang yang kita bantu tidak berterima kasih. Ketika orang lain lebih berhasil. Ketika kita tidak dianggap. Ketika sesuatu yang kita cintai tiba-tiba harus dilepaskan.
Di situlah teori bertemu kenyataan.
Mungkin karakter seseorang tidak paling jelas ketika ia dipuji, tetapi ketika ia dikritik. Tidak paling terlihat ketika ia berhasil, tetapi ketika ia gagal. Tidak paling terbaca ketika ia bersama banyak orang, tetapi ketika ia sendirian.
Karena itu saya ingin belajar melihat kritik bukan sebagai ancaman pertama, melainkan sebagai informasi pertama. Tidak semua kritik benar. Tetapi hampir semua kritik dapat diperiksa. Jika benar, perbaiki. Jika salah, lepaskan. Jika sebagian benar, ambil bagian yang berguna. Dengan begitu saya tidak perlu kehilangan martabat hanya karena menerima koreksi.
Saya juga mulai menyadari bahwa saya memiliki terlalu banyak pintu yang ingin dimasuki. Pendidikan, tasawuf, Al-Qur'an, sejarah, budaya, kewirausahaan, pertanian, peternakan, teknologi, media, lingkungan, filsafat, dan banyak hal lain terasa menarik. Semuanya seperti memanggil untuk dipelajari.
Tetapi hidup mempunyai batas.
Waktu terbatas. Tenaga terbatas. Perhatian terbatas. Uang terbatas. Bahkan umur pun terbatas.
Tidak semua ide harus menjadi proyek. Tidak semua gagasan harus diwujudkan. Sebagian cukup menjadi pengetahuan. Sebagian cukup menjadi tulisan. Sebagian cukup menjadi renungan. Dan hanya beberapa yang benar-benar harus diperjuangkan.
Saya mulai belajar bahwa kedewasaan bukan hanya kemampuan melihat banyak kemungkinan. Kedewasaan adalah keberanian memilih.
Memilih berarti berani mengatakan tidak kepada sebagian hal agar kita dapat mengatakan ya dengan sungguh-sungguh kepada sesuatu yang benar-benar penting.
Mungkin ini salah satu pelajaran terbesar dalam fase hidup saya sekarang: fokus bukan membatasi kehidupan; fokus menyelamatkan kehidupan dari pemborosan.
Kemudian ada satu guru yang tidak pernah berbohong kepada siapa pun: kematian.
Kematian tidak peduli jabatan. Tidak peduli popularitas. Tidak peduli banyaknya pengikut. Tidak peduli berapa banyak buku yang pernah kita baca. Tidak peduli seberapa penting kita merasa diri kita bagi dunia.
Pada akhirnya semua manusia akan berdiri di depan pintu yang sama.
Mungkin karena itu kematian justru membuat kehidupan menjadi lebih jernih.
Jika hidup saya tinggal satu tahun, apa yang benar-benar penting?
Jika tinggal satu bulan?
Jika tinggal satu minggu?
Jika tinggal satu hari?
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti pisau yang memotong banyak kebisingan. Tiba-tiba sebagian perdebatan menjadi tidak penting. Sebagian penghinaan tidak layak dibalas. Sebagian ambisi tidak perlu dikejar. Sebagian luka tidak perlu dibawa terlalu lama. Sebagian keinginan untuk membuktikan diri ternyata hanya menghabiskan waktu.
Kematian mengajarkan bahwa kita semua pada akhirnya akan meninggalkan panggung.
Yang membedakan bukan apakah kita pergi, tetapi bagaimana kita menjalani waktu sebelum pergi.
Dan semakin saya memikirkan kematian, semakin saya memahami bahwa mungkin persoalan terbesar manusia bukanlah kematian, melainkan keterikatan.
Kita takut mati karena terlalu banyak merasa memiliki.
Kita takut kehilangan karena terlalu banyak mengatakan, “Ini milikku.”
Kita takut dilupakan karena terlalu banyak membangun identitas di atas pandangan manusia.
Maka mungkin sebagian dari perjalanan spiritual adalah belajar melepaskan kepemilikan itu sedikit demi sedikit.
Bukan berarti berhenti bekerja.
Bukan berarti tidak boleh memiliki.
Bukan berarti menjadi manusia yang tidak peduli.
Justru sebaliknya.
Kita tetap bekerja dengan sungguh-sungguh.
Tetap menjaga apa yang dipercayakan.
Tetap membangun.
Tetap mencintai.
Tetap berusaha.
Tetapi dengan kesadaran bahwa semuanya hanya titipan.
Ada masa ketika dunia terasa begitu penting. Kita ingin mengejar banyak hal, memperbaiki banyak hal, membuktikan banyak hal. Tetapi ada pula fase ketika dunia mulai terasa biasa saja. Bukan karena kita membencinya. Bukan karena kita menyerah. Bukan karena kita tidak lagi peduli.
Hanya saja ada sesuatu di dalam diri yang mulai memahami bahwa dunia akan tetap berjalan tanpa kita.
Orang akan tetap bekerja.
Matahari tetap terbit.
Hujan tetap turun.
Orang tetap bertengkar dan berdamai.
Sekolah tetap berjalan.
Anak-anak tetap tumbuh.
Generasi berganti.
Nama-nama berubah.
Dan dunia tetap melanjutkan perjalanannya.
Kesadaran itu seharusnya tidak membuat kita apatis. Justru membuat kita lebih rendah hati.
Kita hanya bagian kecil dari arus kehidupan.
Kita melakukan bagian kita sebaik mungkin.
Setelah itu, kita belajar melepaskan hasilnya.
Di sinilah kata ridha mulai menemukan tempatnya.
Ridha bukan berarti berhenti berusaha.
Ridha bukan menyerah sebelum berjuang.
Ridha adalah bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menganggap hasil sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Kita merencanakan.
Kita berikhtiar.
Kita berdoa.
Tetapi hasil akhirnya bukan milik kita.
Dan mungkin di situlah tawakal menjadi nyata.
Tawakal bukan berhenti bekerja.
Tawakal adalah bekerja tanpa menjadikan hasil sebagai Tuhan kecil di dalam diri.
Pada akhirnya seluruh perjalanan itu membawa saya kembali kepada satu nama yang sebenarnya sejak awal tidak pernah pergi:
Allah.
Semakin jauh manusia berjalan, semakin ia menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dijadikan sandaran ternyata rapuh.
Manusia bisa berubah.
Jabatan bisa hilang.
Harta bisa berkurang.
Tubuh bisa sakit.
Rencana bisa gagal.
Orang yang kita cintai bisa pergi.
Pujian bisa berubah menjadi kritik.
Hari ini kita dianggap penting, besok mungkin tidak lagi.
Jika seluruh ketenangan kita bergantung kepada hal-hal itu, maka hidup akan selalu gelisah.
Maka perlahan saya belajar mengembalikan pusat sandaran kepada Allah.
Bukan berarti tidak membutuhkan manusia.
Kita tetap membutuhkan manusia.
Kita tetap membutuhkan keluarga, guru, sahabat, masyarakat, dan kerja sama.
Tetapi manusia bukan tempat bergantung secara mutlak.
Manusia adalah bagian dari perjalanan.
Allah adalah sandaran.
Dan mungkin itulah inti dari seluruh pencarian spiritual: bukan menjadi manusia yang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan menjadi manusia yang tahu kepada siapa segala sesuatu akhirnya dikembalikan.
Saya pernah membayangkan diri mendekati sesuatu yang saya sebut sebagai “resi”—bukan sebagai gelar, bukan sebagai status, tetapi sebagai gambaran tentang manusia yang mulai melihat dunia dengan jarak tertentu. Dunia tetap ada, tetapi tidak lagi terlalu mudah menguasai batin.
Namun saya juga sadar bahwa merasa telah sampai adalah salah satu jebakan paling halus dalam perjalanan spiritual.
Ketika seseorang berkata, “Saya sudah ikhlas,” mungkin justru saat itulah keikhlasannya sedang diuji.
Ketika seseorang merasa, “Saya sudah tidak membutuhkan pengakuan,” lihatlah bagaimana hatinya bereaksi ketika tidak dihargai.
Ketika seseorang berkata, “Saya sudah berserah,” lihatlah apa yang terjadi ketika rencananya gagal.
Maka saya tidak ingin mengklaim telah sampai.
Saya hanya ingin mengatakan:
saya sedang berjalan.
Dan selama masih berjalan, saya masih mungkin salah.
Masih mungkin jatuh.
Masih mungkin sombong.
Masih mungkin marah.
Masih mungkin takut.
Masih mungkin kehilangan arah.
Tetapi selama masih mau kembali, perjalanan belum berakhir.
Mungkin jati diri bukan sesuatu yang harus saya ciptakan. Mungkin ia sesuatu yang harus saya singkap.
Seperti cermin yang tertutup debu. Kita tidak perlu membuat cermin menjadi cermin. Kita hanya perlu membersihkan debunya.
Begitu pula manusia.
Barangkali kita tidak perlu menciptakan diri yang sempurna. Kita hanya perlu membersihkan sesuatu yang menutup kejernihan itu: kesombongan, ketakutan, kepura-puraan, kebutuhan akan pengakuan, kemarahan, keterikatan, ambisi yang berlebihan, dan ketergantungan kepada sesuatu selain Allah.
Semakin banyak debu dibersihkan, semakin jelas pantulannya.
Mungkin perjalanan spiritual bukan terutama tentang menambah sesuatu.
Tetapi tentang mengurangi.
Mengurangi ego.
Mengurangi kepalsuan.
Mengurangi ketergantungan.
Mengurangi kebutuhan untuk terlihat.
Mengurangi kebutuhan untuk menang.
Mengurangi kebutuhan untuk selalu benar.
Sampai akhirnya manusia menjadi lebih sederhana.
Saya tidak ingin menjadi semakin rumit.
Saya ingin berpikir dengan jernih.
Bekerja dengan sungguh-sungguh.
Berbicara seperlunya.
Mendengarkan lebih banyak.
Tidak mudah tersinggung.
Tidak terlalu haus pengakuan.
Tidak takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milik saya.
Tidak terlalu sibuk menjelaskan diri.
Tidak terlalu sibuk membuktikan diri.
Tidak merasa harus memenangkan semua perdebatan.
Tetap belajar.
Tetap memimpin.
Tetap berkarya.
Tetap membangun.
Tetapi dengan hati yang semakin ringan.
Sebab mungkin kedewasaan bukan ketika manusia mempunyai semakin banyak jawaban.
Kedewasaan adalah ketika manusia mampu hidup bersama beberapa pertanyaan tanpa kehilangan ketenangan.
Pada akhirnya saya mulai melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang harus saya miliki, tetapi sebagai sesuatu yang dipercayakan.
Dulu mungkin saya berkata:
"Ini milik saya."
Sekarang saya ingin belajar berkata:
"Ini dititipkan kepada saya."
Dulu:
"Ini jabatan saya."
Sekarang:
"Ini amanah yang sedang saya jalankan."
Dulu:
"Ini keberhasilan saya."
Sekarang:
"Saya hanya diberi kesempatan untuk ikut mengerjakannya."
Perubahan bahasa itu ternyata mengubah cara memandang hidup.
Jika semuanya milik kita, kita akan takut kehilangan.
Jika semuanya amanah, kita belajar menjaga.
Dan ketika amanah itu dikembalikan, kita belajar merelakan.
Pada akhirnya saya tidak ingin meninggalkan terlalu banyak nama.
Nama akan dilupakan.
Tidak ingin meninggalkan terlalu banyak jabatan.
Jabatan akan berganti.
Tidak ingin meninggalkan terlalu banyak benda.
Benda akan rusak.
Saya ingin meninggalkan manusia.
Seorang siswa yang pernah mendapatkan kesempatan lalu memberikan kesempatan kepada orang lain.
Seorang guru yang pernah merasa dihargai lalu belajar menghargai muridnya.
Seorang alumni yang pernah dibimbing lalu mampu membimbing orang lain.
Seseorang yang pernah mendengar sebuah kalimat lalu mengubah arah hidupnya.
Mungkin itulah warisan yang sesungguhnya.
Bukan berapa banyak yang saya miliki, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena saya pernah hadir.
Namun bahkan pertanyaan itu pun pada akhirnya harus dilepaskan. Sebab kita tidak selalu akan mengetahui hasil dari kebaikan yang kita lakukan.
Benih tidak pernah melihat seluruh pohon.
Guru tidak selalu melihat seluruh perjalanan murid.
Orang tua tidak selalu melihat seluruh masa depan anak.
Kita hanya menanam.
Waktu yang bekerja.
Allah yang menentukan.
Dan mungkin inilah bentuk pengabdian yang paling sederhana: melakukan bagian kita tanpa menuntut dunia menyaksikannya.
Sebab jika setiap kebaikan harus disaksikan agar kita mau melakukannya, mungkin yang kita cari bukan lagi kebaikan, tetapi pengakuan.
Maka saya ingin belajar melakukan sesuatu bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Karena mungkin di situlah karakter yang sebenarnya mulai terbentuk.
Bukan pada apa yang kita katakan tentang diri kita.
Bukan pada apa yang kita tulis tentang diri kita.
Bukan pada bagaimana orang memandang kita.
Tetapi pada apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan pada akhirnya saya kembali kepada pertanyaan yang sejak awal mengiringi perjalanan ini:
Siapakah saya?
Saya bisa menjawabnya dengan banyak cara.
Saya bisa menyebut nama.
Saya bisa menyebut jabatan.
Saya bisa menyebut pendidikan.
Saya bisa menyebut pekerjaan.
Saya bisa menyebut pengalaman.
Tetapi semua itu belum menyentuh inti.
Maka mungkin suatu hari, ketika semua gelar itu dilepas, saya hanya ingin menjawab:
Saya manusia yang masih belajar.
Belajar mengenal diri.
Belajar memahami manusia.
Belajar mengendalikan diri.
Belajar menerima kehilangan.
Belajar menghadapi kematian.
Belajar menggunakan ilmu tanpa menjadi sombong.
Belajar memimpin tanpa menjadi penguasa.
Belajar mencintai tanpa merasa memiliki.
Belajar berbuat tanpa menuntut balasan.
Belajar berbicara kepada manusia.
Belajar diam di hadapan Tuhan.
Dan yang paling sulit:
belajar melepaskan diri dari dirinya sendiri.
Sebab mungkin selama ini yang paling sering menghalangi saya bukan dunia.
Bukan orang lain.
Bukan keadaan.
Tetapi “aku” yang terlalu ingin menjadi sesuatu.
Aku yang ingin dianggap.
Aku yang ingin dipahami.
Aku yang ingin dihargai.
Aku yang ingin benar.
Aku yang ingin menang.
Aku yang ingin dikenang.
Aku yang ingin menjadi seseorang.
Barangkali perjalanan pulang justru dimulai ketika aku mulai bertanya:
Apakah semua itu benar-benar aku?
Jika jabatan bukan aku, siapa aku?
Jika pikiran bukan aku, siapa aku?
Jika emosi bukan aku, siapa aku?
Jika pujian bukan aku, siapa aku?
Jika celaan bukan aku, siapa aku?
Jika keberhasilan bukan aku, siapa aku?
Jika kegagalan bukan aku, siapa aku?
Jika tubuh suatu hari akan kembali menjadi tanah, siapa aku?
Pertanyaan itu tidak perlu buru-buru dijawab.
Mungkin memang tidak boleh dijawab terlalu cepat.
Sebab ada pertanyaan yang bukan untuk dijawab dengan kata-kata, melainkan untuk dijalani.
Maka saya ingin berhenti sejenak.
Tidak mengejar jawaban.
Tidak mengejar pengalaman spiritual.
Tidak mengejar pengakuan.
Tidak mengejar kesempurnaan.
Hanya diam.
Menyadari napas.
Menyadari kehidupan.
Menyadari bahwa hari ini saya masih diberi kesempatan.
Masih diberi waktu.
Masih diberi akal.
Masih diberi rasa.
Masih diberi amanah.
Masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Masih diberi kesempatan untuk meminta maaf.
Masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.
Dan suatu hari, semua kesempatan itu akan selesai.
Maka barangkali kehidupan bukan tentang seberapa besar kita menjadi.
Tetapi seberapa jernih kita menjalani.
Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.
Tetapi seberapa baik kita menjaga apa yang dititipkan.
Bukan tentang seberapa banyak orang mengenal kita.
Tetapi apakah kehadiran kita pernah memberi manfaat.
Bukan tentang seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan.
Tetapi apakah hati kita semakin mampu bersandar kepada-Nya.
Dan bukan tentang seberapa tinggi kita merasa telah mencapai perjalanan spiritual.
Tetapi apakah kita masih mampu menjadi sederhana di hadapan-Nya.
Mungkin pada akhirnya jati diri bukanlah sebuah nama.
Bukan sebuah gelar.
Bukan sebuah teori.
Bukan sebuah definisi.
Jati diri adalah kejernihan yang muncul ketika manusia perlahan-lahan melepaskan segala sesuatu yang selama ini menutupi dirinya.
Dan mungkin, semakin dekat seseorang kepada hakikat, semakin sederhana ia berbicara tentang dirinya.
Tidak perlu terlalu banyak menjelaskan.
Tidak perlu terlalu banyak membuktikan.
Tidak perlu terlalu banyak mengaku.
Cukup menjalani.
Cukup menjaga.
Cukup berbuat.
Cukup berserah.
Sebab pada akhirnya kita semua sedang menuju tempat yang sama.
Ada yang membawa banyak nama.
Ada yang membawa banyak cerita.
Ada yang membawa banyak pencapaian.
Ada yang membawa banyak penyesalan.
Tetapi pada pintu terakhir, semuanya akan menjadi sederhana.
Tidak ada lagi jabatan.
Tidak ada lagi panggung.
Tidak ada lagi tepuk tangan.
Tidak ada lagi pengikut.
Tidak ada lagi perdebatan.
Tidak ada lagi citra.
Hanya seorang manusia dan Tuhannya.
Dan mungkin pada saat itulah seluruh pertanyaan tentang jati diri menemukan tempatnya.
Bukan karena kita akhirnya mampu menjelaskan siapa diri kita, tetapi karena kita akhirnya memahami bahwa sejak awal kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.
Kita hanya dititipi.
Waktu dititipi.
Tubuh dititipi.
Akal dititipi.
Keluarga dititipi.
Ilmu dititipi.
Jabatan dititipi.
Kesempatan dititipi.
Bahkan kehidupan itu sendiri dititipi.
Maka jika suatu hari semuanya dikembalikan, semoga kita tidak terlalu sibuk bertanya:
"Mengapa Engkau mengambilnya?"
Tetapi mampu berkata:
"Ya Allah, semuanya memang milik-Mu."
Jika Engkau masih memberikannya, ajari saya menjaganya.
Jika Engkau mengambilnya, ajari saya merelakannya.
Jika Engkau memberi saya waktu, ajari saya menggunakannya.
Jika Engkau memberi saya ilmu, ajari saya agar ilmu itu tidak menjadi kesombongan.
Jika Engkau memberi saya jabatan, ajari saya agar tidak menjadi penguasa.
Jika Engkau memberi saya rezeki, ajari saya agar tidak diperbudak olehnya.
Jika Engkau memberi saya manusia untuk dipimpin, ajari saya agar mampu menjaga mereka.
Dan ketika waktunya tiba untuk pulang, jangan biarkan saya pulang membawa terlalu banyak kesombongan yang belum sempat saya lepaskan.
Biarkan saya pulang sebagai manusia yang sederhana.
Sebagai seorang hamba.
Sebagai seseorang yang mungkin tidak sempurna, tetapi telah berusaha.
Yang mungkin masih banyak salah, tetapi terus kembali.
Yang mungkin belum memahami seluruh rahasia kehidupan, tetapi telah belajar mempercayakan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya kepada Tuhan.
Sebab pada akhirnya, mungkin perjalanan hidup bukan perjalanan untuk menjadi seseorang.
Ia adalah perjalanan untuk kembali.
Kembali dari kesombongan menuju kerendahan hati.
Kembali dari kebisingan menuju keheningan.
Kembali dari kebutuhan untuk diakui menuju ketulusan.
Kembali dari ketergantungan kepada manusia menuju tawakal.
Kembali dari keinginan menguasai dunia menuju kemampuan menguasai diri.
Kembali dari “aku” menuju “amanah”.
Dan pada ujung semuanya, kembali kepada Dia yang sejak awal tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Allah.
Maka jika suatu hari dunia bertanya,
"Siapakah kamu?"
Mungkin saya tidak lagi membutuhkan jawaban yang panjang.
Saya hanya ingin berkata:
Aku seorang manusia yang sedang belajar pulang.
Dan jika suatu hari Allah bertanya:
"Apa yang telah kau lakukan dengan segala yang telah Aku titipkan?"
Semoga saya tidak perlu membawa banyak kata.
Semoga hidup saya sendiri yang menjawab.
Semoga setiap siswa yang pernah saya dampingi menjadi jawaban.
Setiap guru yang pernah saya kuatkan menjadi jawaban.
Setiap manusia yang pernah saya bantu menjadi jawaban.
Setiap kesalahan yang pernah saya akui menjadi jawaban.
Setiap ego yang pernah saya lepaskan menjadi jawaban.
Setiap amanah yang pernah saya jaga menjadi jawaban.
Dan ketika tidak ada lagi yang dapat dibawa selain amal dan hati, semoga hati itu cukup jernih untuk mengatakan:
"Ya Allah, aku tidak datang membawa kebesaran.
Aku hanya datang membawa apa yang tersisa dari diriku setelah berusaha melepaskan segala sesuatu yang bukan milikku."
"Aku datang sebagai seorang hamba."
Lalu diam.
Tidak perlu menjelaskan lagi.
Tidak perlu membuktikan lagi.
Tidak perlu menjadi siapa-siapa lagi.
Hanya pulang.