Ada keganjilan yang terasa: mengapa ketika api keresahan rakyat membara, para pemuka agama dipanggil bukan untuk menyalakan jalan terang, melainkan hanya untuk meredakan gejolak?
Suara ormas dan tokoh agama kerap terdengar bagai gema kekuasaan, bukan pantulan jeritan hati umat. Padahal, mereka yang turun ke jalan bukanlah kelompok yang berafiliasi dengan ormas, melainkan rakyat kecil yang terhimpit lapar, dihimpit beban hidup, dan ditusuk rasa ketidakadilan.
Di sinilah getirnya: ajaran agama yang seharusnya menjadi suluh dan penuntun, justru diposisikan sekadar sebagai “air penenang.” Pemuka agama berubah menjadi pemadam kebakaran, bukan cahaya yang menyulut keberanian dan harapan.
Padahal, agama sejatinya adalah energi ruhani: ia memberi arah, menyalakan cinta, menegakkan keadilan. Ulama bukan hanya pelengkap legitimasi, tetapi seharusnya penyambung lidah umat—menyampaikan keresahan mereka tentang PHK yang merajalela, biaya hidup yang mencekik, arogansi kuasa, korupsi yang menggurita, serta jarak yang makin jauh dari keadilan.
Seruan “NKRI Harga Mati” pun sering digaungkan. Namun maknanya bukanlah jargon kosong. Membela tanah air berarti menjaga kehidupan rakyatnya—perutnya, suaranya, dan masa depannya. Bila amanat tergadai, ulama yang sejati semestinya berani mengingatkan, bukan sekadar menenangkan.
Yang ditunggu umat bukanlah khutbah pereda luka, tetapi seruan yang menyingkap akar derita. Yang mereka rindukan bukan sekadar doa yang mengalirkan air mata, melainkan hikmah yang menyalakan kesadaran.
Imam al-Ghazali telah mengingatkan dengan jernih:
وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ.
“Kerusakan rakyat bersumber dari rusaknya penguasa. Penguasa rusak karena rusaknya ulama. Seandainya tiada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan penguasa berkurang, sebab mereka takut terhadap teguran ulama.”
Maka, bila agama hanya hadir untuk meredam, umat akan merasa kehilangan pelita. Tetapi bila agama hadir untuk menegakkan kebenaran, meski pahit, maka ulama menjadi lentera yang tetap menyala di tengah gulita zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar