8/22/2025

PIDATO GUBERNUR JAWA BARAT KDM PADA RAPAT PARIPURNA DPRD PROVINSI JAWA BARAT HARI JADI JAWA BARAT KE 80 TAHUN

Saya menyampaikan permohonan maaf karena dana rutinnya terus saya potong, saya alihkan untuk pembangunan jalan dan sekolah. Mungkin kita bertanya, kenapa kita memulai pembangunan dengan menceritakan akar kebudayaan? Saya menyampaikan, tidak ada satuun bangsa di dunia ini yang mencapai kemajuan dalam pembangunan peradaban bangsanya, kecuali yang terikat pada konstitusi bangsanya. Konstitusi di negara-negara maju itu adalah konstitusi yang mempertahankan nilai tradisi yang terjadi pada masanya dan itu terejawantahkan dalam bentuk konstitusi.

Inggris bangunannya tetap masa lalu. Amerika bangunannya tetap masa lalu. Indonesia punya bangunan bangunan masa lalu adalah hanya dua. Satu cerita sejarah yang kedua adalah peninggalan kolonial. Pembangunan bukan rangkaian teknokratik yang hanya didasarkan pada pikiran-pikiran akademik. Pembangunan bukan kalimat kalimat fakta yang ditulis dalam buku-buku peraturan daerah tentang anggaran belanja pembangunan daerah.

Pembangunan adalah ritme sejati tentang keselarasan manusia dengan alamnya. Keselarasan manusia dengan tanah, air, udara, dan mataharinya adalah ritme indah yang di mana kita diberikan alam yang indah bernama tanah Jawa Barat, tanah Sunda. Punya gunung yang nunga jentul, punya air yang mengalir, punya sawah yang terhampar, punya lautan dan samudra yang sangat luas.

Seluruh tata nilai itu ada dalam naskah siksa kandang karesian yang menceritakan tentang tata ruang yang disebut dengan gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan yang disebut dengan tritang tu dibuana. Sanghang siksa kandang menceritakan tentang sipil society yaitu trias politika Rama resi, dan Prabu. 

Seluruh nilai-nilai itu kita tinggalkan seolah kita akan menggapai masa depan. Seolah kita adalah kaum akademik yang tidak perlu catatan masa lalu. Seolah kita akan pergi ke depan dengan hanya menggunakan buku kesempatan kita yang kita bangun dalam narasi-narasi politik. Tetapi kita lupa ternyata 80 tahun Jawa Barat terbangun, ternyata seluruh rangkaian itu tidak menjadi fakta. Kenapa? Kemiskinan masih menganga jalan hancur di mana-mana. Hari ini kita punya derita. Seorang anak bernama berumur 3 tahun, berasal dari Kabupaten Sukabumi pada sebuah kampung terpencil. Ibunya ODGJ. Bapaknya mengalami TBC. Anak itu tiap hari dikolong. Dia meninggal di rumah sakit dalam keadaan seluruh cacing-cacing keluar dari mulut dan hidungnya. Betapa kita gagap dan betapa kita lalai. Kenapa? Perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun Epanti. Kenapa? Manusia tidak terbangun dalam nalar dan rasa.

Semua orang bicara anggaran, semua orang bicara keuangan. Dia lupa bahwa di balik anggaran ada rasa dan cinta yang bisa mengadakan yang ada, mentiadakan yang tiada. Kerangka itu adalah koreksi diri. Dan saya memutuskan terhadap desa itu memberikan hukuman. Saya tunda bantuan desanya karena desanya tidak mampu ngurus warganya. 

Kerangka ini harus dibangun. Kenapa? Kita bertugas mengemban amanah. Titah dari Allah. Seluruh titah dari Allah harus kita pahami apa yang di kita lihat dalam rangkaian peristiwa alam. Maka cerita Jawa Barat yang dulu bersama Banten pasti dimulai dari dari Taruma negara.

Taruman negara menceritakan tentang apa? Taruma negara menceritakan tentang kepemimpinan yang mengelola air, kepemimpinan yang mampu mengelola sumber daya sungai yang mengelilingi daerah Bekasi yang diawali dari Bogor. Maka Taruma Negara menceritakan tentang peradaban air di mana kepemimpinan mampu menguasai hulu sungai dan daerah airan air serta muara yang pada akhirnya bisa menguasai lautan utara. 

Cerita itu bukan cerita mistik. Tetapi cerita fakta bahwa bangunlah peradaban Jawa Barat dengan apa? Melakukan normalisasi sungai di kali-kali Bekasi, di kali-kali Bogor. Karena itu adalah bentuk peradaban. Dan hari ini tata ruangnya berubah. Di mana sungai-sungai berubah peruntukannya, di mana sawah-sawah berubah peruntukannya. Pemukiman menghampar menghampar di Kabupaten Bekasi, di kota Bekasi dan Karawang. Banjir dalam setiap waktu. Kemiskinan tidak terselesaikan. Perbedaan kayak yang miskin terus menganga. Kenapa? Salah dalam melakukan tata ruang. 

Litbang Kompas mengatakan salah satu titik kelemahan dari kepuasan 85% adalah dua hal. Pertama adalah ekonomi. Yang kedua adalah lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan terjadi berebutannya di daerah industri. Kenapa itu terjadi? Karena kita lupa membangun konektivitas antara pendidikan dan lingkungan, pendidikan dan industri, antara dunia IT dengan keadaan masyarakat. Apa yang menjadi kelemahan masyarakat Jawa Barat? Matematika dasarnya lemah sehingga ketika seleksi mereka kalah. 

Kerangkah itu maka bergeser, orang bercerita tentang galuh. Cerita tentang galuh bercerita tentang apa? bercerita tentang bagaimana sebuah Tatar Selatan dibangun dalam kekuatan empati publik di mana ada heroisme pengorbanan seorang manusia demi kemanusiaan, demi keadilan yang pada akhirnya Galuh menceritakan tentang apa? Persenyawaan antara utara dan selatan, persenyawaan antara budaya pegunungan dengan budaya pesisir dan kemudian ada kesadaran kolektif tentang pakuan, Pajajaran. Kemudian di situ bicara tentang apa? Tentang budaya menulis di atas batu. Budaya menulis di atas batu mencerminkan apa? Dalam naskah Sanghiyang siksa kandang mengatakan rama itu perumpamaannya seperti tanah. Resi, seperti air, prabu itu seperti batu. 

Maka gurat rama adalah sipil society, keluarga yang harmonis adalah gurat tanah. Kepemilikan hak atas tanah adalah kekuatan sendi yang utama bagi sebuah masyarakat sipil society. Gemah ripah, repeh rapi. Tidak mungkin sipil society itu menguasai sebuah wilayah dan dia tidak memiliki hak pemukiman. Maka kebijakan berikutnya adalah hak kepemilikan atas tanah yang melahirkan. hak kepemilikan, pemukiman yang layak itu harus menjadi sendi utama. Di situlah rama.

Resi lambang dari guru, guru, dosen. Maka dia punya karakternya air. Dia jernih, dia menenangkan, kemudian dia mensucikan. Seluruh rangkaian itu ada dalam piranti-piranti independensi pendidikan. Independensi yang harus dibangun. Di mana guru tidak boleh berpihak pada apapun. Maka guru berpihak pada satu kebenaran yang objektif. 

Kemudian Prabu, maka dia Prabu itu adalah gurat batu. Maka dia menulis dalam batu meskipun menulisnya sulit, meskipun banyak tantangan yang dihadapi, meskipun ada gelombang penentangan yang berlangsung, tetapi seorang prabu harus punya keyakinan bahwa yang dia tuliskan adalah bukan untuk dirinya, yang dituliskan bukan untuk popularity-nya, yang dia tuliskan bukan untuk electability-nya, yang dia tuliskan adalah cerita catatan masa depan di mana kepemimpinannya menjadi legasi bagi pewarisan kepemimpinan ke depan lahir orang yang tercerdaskan lewat tulisan itu. Maka itu ada dalam cerita Galuh Pakuwan. 

Kemudian kita akhirnya memasuki sebuah era di mana Kecirebonan menebarkan sebuah nilai baru. Nilai menyempurnakan tradisinya orang Jawa Barat yang memiliki spirit silih asah, silih asih, silih asuh. Nu jauh urang deketkeun, geus deukut urang layeutkeun, geus layeut urang paheutkeun, geus paheut silih wangikeun. sebuah nilai yang terbangun dalam harmoni tatar Sunda, tetapi ada nilai syari yang harus disempurnakan. Maka cipta rasa, sirna rasa menyempurnakan rasa yang dimiliki oleh orang Sunda yang terdiri dari entitas-entitas yang hari ini memiliki keragaman dalam kebudayaan. Karena rasa, maka rasalah sebagai sendi utama untuk mengayuh pembangunan yang melahirkan gelombang kepemimpinan Sumedang Larang, Subang Larang.

Selajutnya memasuki pada sebuah era POC, kemudian kita memasuki era kemerdekaan, maka sintesanya adalah pembangunan tidak bisa didasarkan hanya pada pikiran teknokratik. Dalam bahasa kebudayaan, pembangunan tidak hanya mengandalkan saringseknya ikat, tapi pembangunan harus dibangun dalam kekuatan kancing. Caringcingnya kancing. Apa itu? Pembangunan. Bukan hanya mengandalkan intelektualision, tetapi pembangunan harus dibangun dalam piranti emosional kuision dan spiritual quision. 

Seluruh nilai-nilai itu adalah sistem nilai pendidikan yang diajarkan dalam ajaran panca waluya. Maka manusia Sunda itu adalah manusia yang harus cageur, bageur, beneur, pinter, singer. Maka Pancawaluya harus dibangun dalam sebuah gerbang. Maka hari ini pemerintah provinsi Jawa Barat mengedepankan sebelum masuk ke Pancaaluya maka kita harus masuk ke wilayah gerbang Pancaaluya. Maka gerbang itu bertujuan mengantarkan sebuah nilai ajaran yang pada akhirnya manusia Sunda, manusia Jawa Barat itu apa? Kaluhur sirungan, kehendap akaran. 

Kerangka inilah pijakan pembangunan yang kita tata. Pembangunan harus mampu melahirkan sirung, yaitu tumbuhnya benih-benih baru, tumbuhnya bunga baru, tumbuhnya buah baru melahirkan metamorfosis ke depan. Itu yang disebut dengan kiwari bihari jeung poe isuk. Maka sains adalah pendekatan. Maka teknokratik adalah pendekatan. Maka teknologi adalah pendekatan. Tetapi seluruh pendekatan itu akan mengalami perubahan dalam setiap waktu. Maka orang Sunda mengatakan harus mi indung ka waktu, mi bapa ka zaman. Pindah cai, pindah tampian.

Kerangka ini tidak bisa berjalan kalau apa? Kalau kehandap teakaran. Karena kahandap harus akaran, maka pembangunan kita harus menginjak bumi. Tidak penting dipuji orang, tidak penting bagus dalam tayangan, tidak penting reka-reka gambar dibuat-buat di media sosial. Tidak penting. Yang harus kita ceritakan adalah fakta yang sebenarnya. bukan pembangunan kamungflatif. Kalau pendidikan dasar di kita masih bermasalah, katakan bermasalah. Kalau masih ada anak SMP yang tidak bisa baca tulis, katakan itu terjadi. Kalau ada kematian ibu yang melahirkan, kematian anak, katakan itu terjadi. Kalau masih Hiv-nya meningkat, katakan itu terjadi. Untuk apa? agar kita bisa meraih sintesa. Maka seiring dengan perkembangan media sosial di mana rakyat Jawa Barat hari ini mengenal TikTok, hari ini kita bisa melihat fakta. Setiap hari rakyat bercerita apa? Bercerita tentang air bersih yang sulit didapatkan. Bercerita tentang apa? Gedung-gedung sekolah yang mau roboh tanpa toilet. Bercerita tentang apa? Jalan-jalan pemukiman yang rusak, jembatan-jembatan yang mau roboh, anak-anak menyeberang sungai Citarum menggunakan rakit. Anak-anak bergelantungan di kawat-kawat pengikat di Garut dan di Sukabumi hanya untuk sekolah. Itu cerita fakta kita. Dan seluruh fakta itu lahir lewat apa? kesadaran publik warga untuk menceritakan apa yang terjadi di tanah Jawa Barat ini.

Untuk itu, demokrasi yang dibuka, media sosial yang terbuka harus melahirkan apa? Harus melahirkan pemimpin yang peka. Harus melahirkan apa? Birokrat yang dia sidik sakti indra waspada. Apa itu? harus melahirkan birokrat pancampurna. Ceulina ngadangu, irungna ngangse, panona awas, letahna ngucap, hatena ikhlas. Maka konektivitas para birokrat untuk melihat perkembangan yang terjadi di jagat media sosial adalah kepekaan untuk membaca situasi. 

Para kepala desa harus membuka ruang rumahnya untuk dikunjungi warga dalam setiap waktu. Tidak bisa. Warga harus datang dari ujung Garut, ujung Sukabumi, ujung Cirebon, terus-terusan ke Lembur Pakuan, mereka terlalu jauh untuk berjalan. Para camat juga harus membuka diri, membuka ruangnya, terkoneksi dengan para bupatinya yang harus handphone-nya menyala, terkoneksi dengan gubernurnya. Maka kita bisa berjalan seiring dan sejalan. Sarendek, saigel, sabobot, sapihane ka cai jadi salewi, ka darat jadi salogak. Kalimat sa itulah kalimat jamak menjadi tunggal. Jamak artinya apa? Kita ada ragam, ada ragam partai politik, kita ada ragam daerah, kita ada ragam kepentingan, ada ragam baju. Tetapi seluruh keragaman itu manakala didorong oleh kebeningan hati, maka akan lahir kemanunggalan, yaitu kalimat sa, kalimat yang mempertautkan, kalimat yang mempersatukan, kalimat yang menyatukan yang tanpa jeda bahwa di antara kita yang bekerja baik legislatif, eksekutif, yudikatif, dari mulai gubernur, para ketua DPRD, para wakil ketua, para anggota, dan seluruh sampai pada tingkat RT, RW, Bupati, Walikota, Lurah, camat, Kepala Desa, kuwuk, ada yang menyatukan yaitu kalimat illah. Lailahaillallah. 

Kalimat Ilah itu adalah kalimat keikhlasan. Bahwa kita bekerja bukan untuk partai, kita bekerja bukan untuk dipilih kembali. Kita bekerja untuk apa? Sebuah pengabdian. bahwa kita mengabdi pada tetar Sunda, pada tetar Jawa Barat untuk menghilangkan kemiskinan, menghilangkan kebodohan, mengangkat derajat orang-orang miskin dan anak-anak yatim yang didengungkan oleh Rasulullah sebagai sendi utama untuk membangun kemakmuran bagi warganya.

Inilah kerangka pijak inilah yang harus dibangun di antara kita. Kita membangun bukan untuk 5 tahun. Kita membangun bukan untuk 10 tahun. Kita membangun bukan untuk kita. Kita membangun untuk masa depan anak cucu kita. Kita dititipi gedung merdeka ini. Hasil karya kolonial. Kita berada digedung sate. Hasil karya kolonial. Pertanyaannya adalah apa yang kita titipkan bagi generasi Jawa Barat ke depan kalau kita tidak punya nilai-nilai filosofi yang besar dan mendasar.

Untuk itu semoga pembangunan di Jawa Barat, lembur diurus kota ditata adalah rangkaian lagu yang tidak pernah berakhir dalam irama angin, irama air, irama matahari, dan kemudian pada akhirnya bisa memaknai simbol-simbol peradaban yang seringkali orang mengatakan kemusyrikan. Simbol peradabannya apa? Orang Cina mengenal yin dan yan. maskulin dan feminin sebagai bentuk peradaban dia mensimbolkan filosofi tentang manusia. 

Orang Sunda itu punya tiga simbolisasi. Yang pertama, kalau laut selatan itu mengambil filosofi kebudayaan Jawa, maka dilambangkan dalam simbol putri yang cantik bernama Nyi Ratu. itu cermin bahwa laut kalau diurus maka dia akan menjadi putri yang sangat cantik. Harus dijaga kehormatannya tidak boleh diambil terumbuk karangnya tidak boleh lagi ada berbagai aktivitas yang merusak ke lautan.

Kemudian yang kedua, simbol dari gunung dan hutan. Maka orang Sunda mengatakan itu adalah Abah, Eyang, Uyut, Siliwangi, Maung, Panjajaran. Dia adalah lambang kehormatan Gunung, maka seluruh kehormatannya dijaga dalam simbolnya. Kenapa? Karena kemuliaan, ketentraman, dan kenyamanan rakyat Sunda tergantung gunungnya. Kalau gunung dijaga kehormatannya, maka kita terbebas dari kemiskinan dan terbebas dari bencana. 

Yang ketiga adalah simbol dari tanah. Maka disebutlah Sunan Ambu, lambang dari seorang ibu yang harus dihargai dan dihormati. Maka perlakukanlah tanah yang kita pijak ini seperti kita memerlakukan ibu kita. Sunan Ambu dalam kaidah Sunda, dalam kaidah Nusantara yang diajarkan oleh Bung Karno disebutnya adalah Ibu Pertiwi. Kalau hari ini pengelolaan tanah kita rusak, kalau hari ini tanah tidak pernah kita hormati untuk menerima air, kalau hari ini tanah menjadi rebutan hanya untuk menumpuk kekayaan, sesungguhnya kita adalah orang yang durhaka pada ibu kita.

Untuk itu saya meyakini perjalanan 6 bulan saya memimpin dengan Kang Erwan adalah perjalanan yang baru meletakkan kerangka dasar. Apa yang kami raih dalam 6 bulan bukan hasil kami, tapi hasil seluruh masyarakat Jawa Barat. hasil pimpinan dan anggota DPRD dari mulai provinsi sampai kabupaten kota hasil dari seluruh jajaran para bupati walikota sampai para ketua RT dan RW-nya. Mari kita bersama membangun Jawa Barat. Pahuyekuk-heyuk leungeun, paantai-antai tangun. Sareundeuk, saigel, sapubut, sapihanean. Kacai jadi salewi, darak jadi salogak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar