SAMBUTAN KEPALA MADRASAH ALIYAH
NUURUL IKHWAN
Dalam Acara Silaturahmi & Rapat
Awal Tahun Pelajaran 2025/2026
Oleh : Asep Zaenul Falah
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah
SWT yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan,
sehingga pada hari ini kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat walafiat
dalam rangka silaturahmi dan rapat awal tahun Madrasah Aliyah Nuurul Ikhwan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, suri teladan sepanjang zaman, yang telah
membimbing umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman penuh cahaya iman.
Yang saya hormati, Bapak/Ibu wali siswa, para dewan guru, komite madrasah, serta seluruh hadirin yang dimuliakan Allah.
Bapak/Ibu yang saya muliakan,
Pertemuan hari ini bukan sekadar formalitas rapat awal tahun.
Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk menyatukan visi, menyatukan hati, dan
menguatkan langkah kita bersama dalam mendidik generasi muda—anak-anak kita
tercinta di Madrasah Aliyah Nuurul Ikhwan.
Madrasah ini bukan sekadar gedung. Madrasah adalah rumah
kedua bagi anak-anak kita, tempat mereka tumbuh bukan hanya dengan pengetahuan,
tetapi juga dengan akhlak. Gedung boleh sederhana, jumlah siswa boleh terbatas,
tetapi nilai perjuangan, cita-cita, dan keikhlasan kita jauh lebih besar
daripada keterbatasan itu sendiri.
Sebab madrasah Adalah Amanah yang memiliki akar Sejarah yang Panjang, ia hadir sebagai bentuk modernisasi dari pesatren yang diletakkan oleh para ulama, untuk menjawab tantangan jaman yang hari ini sangat begitu komplek. Maka konsep “almuhafadzotu ala qodimissholeh wal ahdzu bil jadidil aslah” mempertahankan tradisi lama yang baik dan menerima Kejuan yang baik agar lebih adaftip atau orang tua kita dulu menyembutnya “ngindung ka waktu, mibapa ka zaman, ka cai jadi salewi, ka darat jadi salogak, pindah cai pindah tampian”.
Bapak/Ibu yang saya cintai,
Kita hidup di zaman penuh tantangan. Arus globalisasi,
teknologi, budaya luar, bahkan perilaku konsumtif dan individualistik semakin
deras masuk ke dalam kehidupan kita. Anak-anak kita berhadapan dengan dunia
digital yang kadang lebih keras daripada dunia nyata.
Di sinilah peran madrasah sangat penting. Tugas kita bukan
sekadar mengajar matematika, fisika, atau bahasa inggris dll, tetapi menanamkan
karakter, menjaga fitrah, dan membentuk jiwa yang kuat dalam menghadapi
tantangan zaman.
Kita ingin anak-anak MA Nuurul Ikhwan menjadi generasi yang:
1.
Cerdas intelektual – mampu bersaing dengan siapa pun.
2.
Cerdas emosional – memiliki empati, hormat pada orang
tua, guru, dan sesama.
3. Cerdas spiritual – dekat dengan Allah, rajin ibadah, berakhlak mulia.
4. Berakar pada nilai nilai dari kearifan Masyarakat sunda - karena kearifan lokal adalah kekuatan kita dalam menghadapi gempuran globalisasi. Yakni “silih asih, silih asuh, silih asah, silih wangingan, Nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, yaangan kanu poek, mere iteuk kanu leueur. Deudeuhan, welasan, nyaahan tur asihan
Saya sering mengatakan: “Gedung boleh sederhana, fasilitas
boleh terbatas, tetapi semangat kita harus mewah, harus besar, harus tak
terbatas.”
Bapak/Ibu yang saya hormati,
Saya selalu sampaikan pada guru rekan rekan guru pada diskusi
diskusi ringan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tetapi urusan
peradaban, urusan moralitas, urusan akhlak dsb
Pendidikan itu bukan hanya mencetak ijazah, tetapi mencetak
manusia yang siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan agama. Sehingga pada
akhirnya Anak-anak kita bukan hanya harus pintar, tetapi harus benar. Bukan
hanya sukses secara duniawi, tetapi juga selamat secara ukhrawi.”
Maka dari itu gerbang Pendidikan panca waluya membentuk siswa yang cager, bager, benar,
pintar, tur singer” menjadi salah satu Upaya ikhtiar kami yang diletakkan sebagai
krangka dasar untuk senantiasa diperjuangkan dalam membentuk siswa siswa -
siswi di MA Nuurul Ikhwan
Bayangkan jika anak-anak kita nanti menjadi dokter, insinyur,
politisi, pengusaha, tetapi tidak punya akhlak—maka lahirlah generasi yang
pintar merusak, pintar menipu, pintar mengkhianati bangsa. Na’udzubillah.
Tapi jika anak-anak kita berilmu dan berakhlak, maka sekecil
apa pun profesinya, ia akan membawa manfaat. Tukang sayur yang jujur lebih
mulia daripada pejabat yang korup. Petani yang ikhlas lebih berkah daripada
pengusaha yang serakah.
Bapak/Ibu yang wali siswa MA Nuurul Ikhwan saya muliakan,
Saya ingin menegaskan bahwa pada akhirnya pendidikan anak
tidak bisa diserahkan hanya kepada madrasah. Guru hanya bisa memberikan 30-40%
kontribusi. Sisanya ada pada keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Oleh karena itu, kita harus bergandengan tangan, bahu
membahu, berkolabirasi bahwa:
- Guru
mendidik dengan ilmu dan kasih sayang.
- Orang
tua mendidik dengan doa, teladan, dan pengawasan.
- Madrasah
memfasilitasi pembelajaran dengan penuh ikhlas.
Kalau kita Bersatu, berkolaborasi, saling mengingatkan antara satu sama lain, insyaAllah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi baik, generasi emas, generasi yang sama sama kita harapkan walau dari sekolah yang terpencil di sebuah kampung ini. Karena bukan kota besar yang menentukan kualitas anak, tetapi kesungguhan dan doa orang tua yang mendidiknya.
Bapak/Ibu yang wali siswa MA Nuurul Ikhwan saya muliakan,
Mari kita jadikan tahun ajaran ini sebagai awal perjuangan
yang lebih kuat. Mari kita tanamkan pada diri kita bahwa anak-anak kita adalah
amanah Allah, yang kelak akan menjadi penolong kita di dunia dan akhirat.
Saya berdoa semoga semua orang tua diberi kesabaran, para
guru diberi keikhlasan, dan anak-anak kita diberi kecerdasan serta keberkahan
hidup.
Akhirnya, dengan penuh kerendahan hati saya ucapkan terima
kasih atas kehadiran Bapak/Ibu. Semoga Allah meridai pertemuan kita hari ini.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar